Kamis 06 Jan 2022 05:50 WIB

Survei: Faktor Agama Pengaruhi Hoax Covid-19 di Kalangan Siswa

Hoax Covid-19 rentan menyerang siswa dengan tingkat pemahaman agama minim

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Nashih Nashrullah
Hoax Covid-19 rentan menyerang siswa dengan tingkat pemahaman agama minim. Vaksinasi Covid-19 (ilustrasi)
Foto:

Survei ini juga menunjukkan bahwa 20 hingga 30 persen siswa mengaku percaya dengan informasi hoax dan teori konspirasi tentang pandemi Covid-19, termasuk mempercayai bahwa rumah sakit sengaja ‘meng-Covid-kan’ pasien demi mendapatkan biaya penanggungan atau penanganan pasien Covid-19 dari pemerintah. 

“Fatalisme dan kepercayaan pada hoax dan teori konspirasi tentang Covid-19 tentu akan berdampak negatif bagi kepatuhan siswa dalam menjalankan prokes selama pandemi,” kata Yunita. 

Terkait fatalisme, hasil analisis menunjukkan bahwa pandangan ini berpengaruh buruk terhadap perilaku hidup sehat dan membuat para penganutnya memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mempercayai hoax dan informasi menyimpang tentang pandemi dan Covid-19. 

“Selain itu, di kalangan responden Muslim, dukungan terhadap Islamisme juga mendukung suburnya kepercayaan pada hoax dan teori konspirasi, mereka cenderung lebih percaya bahwa Covid-19 ada ‘buatan’ dibanding mereka yang tidak mendukung Islamisme,” sambungnya. 

Di sisi lain, survei ini juga menunjukkan pentingnya peran dan dukungan sekolah terhadap kepatuhan siswa dalam menjalankan protokol kesehatan. “Dalam jangka pendek, sekolah bersama pemerintah perlu meningkatkan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk menegakkan protokol kesehatan di kalangan siswa, kata Narila Mutia Nasir, salah satu penyaji hasil survei sekaligus peneliti PPIM UIN Jakarta. 

“Kesadaran siswa tentang pentingnya prokes dan vaksinasi untuk mengakhiri pandemi perlu ditingkatkan dengan menggalakkan informasi yang benar tentang Covid-19 agar siswa tidak mudah termakan informasi hoax dan teori konspirasi,” ujar Narila. 

 

“Karena peran agama sangat tinggi dalam kepatuhan siswa untuk vaksinasi maupun menjalankan prokes, maka peran tokoh agama juga diperlukan untuk menangkal penyebaran kesalahpahaman tentang pandemi dan Covid-19 sekaligus mengingatkan pentingnya vaksinasi dan penerapan prokes,” kata dia.  

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement