Kamis 09 Dec 2021 21:50 WIB

Duta Besar Negara Sahabat Apresiasi Buku Moderasi Beragama

Buku moderasi beragama diluncurkan dalam tiga bahasa berbeda

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah
Buku moderasi beragama diluncurkan dalam tiga bahasa berbeda. Ilustrasi moderasi beragama umat Islam
Foto: Republika/Yasin Habibi
Buku moderasi beragama diluncurkan dalam tiga bahasa berbeda. Ilustrasi moderasi beragama umat Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sejumlah duta besar negara sahabat mengapresiasi buku Moderasi Beragama Tiga Bahasa yang ditelah diluncurkan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) pada Rabu (7/12). Karena, buku tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, bahasa Arab, dan bahasa China.

Di antara duta besar yang menyampaikan apresiasinya adalah Duta Besar Amerika Serikat (AS) yang diwakili Greg Bauer. Dia menyatakan bahwa pihaknya sudah menunggu lama hadirnya terjemahan buku Moderasi Beragama berbahasa Inggris.

Baca Juga

“Kami sudah menunggu lama hadirnya terjemahan buku Moderasi Beragama yang berbahasa Inggris. Sebenarnya pihak Kedubes Amerika Serikat sudah mengetahui keberadaan buku ini setahun sebelumnya dan menunggu bukunya hadir dalam bahasa Inggris agar bisa disebarkan lebih luas lagi,” ujar Greg dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Kamis (9/12).

Hal senada juga disampaikan Dubes Uni Eropa, Vincent Piket. Setelah buku Moderasi Beragama diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, menurut dia, pihaknya akan bisa ikut menyuarakan perdamaian di dunia.

 

Kedubes Tiongkok juga mengapresiasi Moderasi Agama tiga bahasa ini, khususnya yang berbahasa China. Dengan hadirnya buku ini, dia berharap masyarakat Tiongkok bisa memahami nilai-nilai kearifan yang ada di Indonesia.

Para kedubes negara sahabat tersebut juga berharap dalam setiap event internasional buku Moderasi Beragama tiga bahasa ini hadir dan menjadi salah satu alat untuk spirit perdamaian yang bisa disuarakan di tingkat global.

Sementara itu, Kepala Badan (Kaban) Litbang Diklat Kemenag, Achmad Gunaryo, menjelaskan moderasi beragama merupakan spirit nilai-nilai kearifan Indonesia yang meramu dan meracik keberagaman, sehingga sampai sekarang Indonesia masih menjadi sebuah bangsa yang rukun, damai, dan toleran.

“Bukan hanya masyarakat Indonesia yang membutuhkan moderasi beragama, melainkan juga warga dunia,” kata Gunaryo.

Dia menambahkan, Kemenag telah menyusun buku Moderasi Beragama sejak 2019 lalu. Tujuan penyusunan buku ini sebagai panduan kebijakan dalam rangka mengarusutamakan cara beragama yang moderat, sebuah istilah yang menjadi lawan kata dari ekstremisme.

“Sebagai negara Muslim terbesar dalam G-20, Indonesia harus mengambil peran prakarsa untuk menciptakan perdamaian antarnegara, terutama di dunia Islam yang mengalami krisis serius,” jelas Gunaryo.     

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement