Selasa 12 Oct 2021 16:21 WIB

Marak Rekrutmen NII, MUI: Jaga Anak-Anak, Selektif Berguru  

MUI mengingatkan umat agar selektif menceri guru ngaji

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah
Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH M Cholil Nafis, mengingatkan umat agar selektif menceri guru ngaji
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH M Cholil Nafis, mengingatkan umat agar selektif menceri guru ngaji

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Muhammad Cholil Nafis, mengatakan, orang yang menganggap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) thaghut adalah kesesatan dalam berpikir tentang kebangsaan. 

Sebelumnya, Kementerian Agama (Kemenag) menyampaikan, sejumlah masyarakat di Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat dikabarkan direkrut masuk dalam organisasi Negara Islam Indonesia (NII). Rekrutmen dilakukan melalui pengajian, dan doktrin NII menganggap NKRI tidak sesuai dengan ajaran Islam (thaghut)

Baca Juga

Kiai Cholil menerangkan, menurut penelitian Profesor Ahmad Sukardja guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Profesor Tahir Azhary guru besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) bahwa NKRI adalah negara yang sangat mirip dengan negara yang didirikan  Nabi Muhammad SAW di Madinah. Negara Madinah konstitusinya Piagam Madinah, sementara NKRI punya Pancasila dan UUD 1945.

Dia menegaskan, tentu itu tidak benar menganggap NKRI adalah thagut, itu pemahaman yang salah. Sehubungan dengan informasi perekrutan organisasi NII lewat pengajian, Kiai Cholil berharap kepada masyarakat agar mencari guru yang tepat dalam belajar agama. Diharapkan juga guru-guru yang baik lebih sering turun ke masyarakat.

"Mencari guru yang baik itu begini kalau mencari ustadz lihat dulu track record (rekam jejak) ustadznya, lalu (lihat) kemampuan agamanya, pengamalan agamanya, jangan sampai orang yang tidak pernah belajar agama kemudian menjadi ustadznya, itu pasti salah-salah karena kita harus belajar pada ahlinya," ujarnya.

Kiai Cholil mengingatkan agar masyarakat belajar agama yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, bukan yang mendekatkan kepada gerakan politik. Pastikan pengajarannya terbuka alias tidak tertutup, dan terbuka untuk umum menerima siapa saja.

Dia mengatakan, pengajian yang sifatnya tertutup, gelap-gelapan dan terbatas, apalagi yang tidak berbasis masjid, tentu harus dihindari guru pengajian yang seperti itu. Terhadap orang tua, mari jaga anak-anak.

"Jagalah generasi kita, bimbing agamanya, oleh karena itu di masing-masing daerah dekatkanlah generasi kita dengan masjid," jelas Kiai Cholil.

Kiai Cholil juga mengatakan, mengharapkan para tokoh agama banyak turun ke lapangan untuk menyapa umat. Mungkin aktivitas dakwah dan menyapa umat melelahkan, tapi nikmati saja itu adalah upaya mendekatkan diri kepada Allah.

Dia menambahkan, menganggap NKRI adalah thogut mungkin termasuk tindakan yang melawan kebangsaan dan menghancurkan kesatuan. Maka pemerintah harus menindaknya. Maka berkenaan dengan NII perlu diputuskan regulasinya dan dihentikan gerakan-gerakannya. "Karena ini gerakan bawah tanah, tentu pemerintah punya kewenangan untuk menghentikannya dan bahkan menangkapnya manakala ia menimbulkan masalah dan melawan NKRI," ujar Kiai Cholil.      

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement