Jumat 10 Sep 2021 10:03 WIB

Akankah Mujahidin Menang Lawan Taliban di Lembah Panjshir?

Situasi berbeda antara Lembah Panjshir di era 1980-an dengan masa kini

Seorang anak laki-laki menjajakan melewati lukisan dinding dengan potret tokoh Mujahidan dari Lembah Pansjshir, mendiang komandan Afghanistan Ahmad Shah Massoud di Kabul pada 8 September 2021.
Foto: Rt.com
Seorang anak laki-laki menjajakan melewati lukisan dinding dengan potret tokoh Mujahidan dari Lembah Pansjshir, mendiang komandan Afghanistan Ahmad Shah Massoud di Kabul pada 8 September 2021.

REPUBLIKA.CO.ID, Dua puluh tahun setelah pembunuhan Komandan Ahmad Shah Massoud, 'Singa Panjshir', yang memerangi Soviet pada 1980-an dan Taliban pada 1990-an, akankah kawasan itu dapat bertahan sebagai pusat perlawanan?

Awal pekan ini, juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid menyatakan perang di Afghanistan secara resmi berakhir karena kelompok itu telah mengklaim kemenangan di provinsi Panjshir. Meskipun demikian, situasi di wilayah itu saat ini tidak jelas dan tetap menjadi benteng terakhir perlawanan, yang mengklaim masih menguasai posisi strategis di lembah yang tangguh, yang terletak sekitar 150 km (93 mil) utara Kabul.

Seperti ditulis mantan tentara Uni Sovyet dalam artikel di Rt.com, Front Perlawanan Nasional Afghanistan itu kini memang dikomandoi oleh Ahmad Massoud, lulusan Akademi Militer Inggris, lulusan Akademi Militer Sandhurst, putra Ahmad Shah Massoud, yang terbunuh pada 9 September 2001.

Dan bila merujuk dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Washington Post, Massoud mengklaim dia "siap untuk mengikuti jejak ayah saya, dengan pejuang mujahidin yang siap untuk sekali lagi menghadapi Taliban."

Pertanyaannya apakah bisa dilakukan sekarang. Apakah ada bedanya dengan pada akhir dekade 1970-an hingga awal dekade 1980-an lembah ini berhasil dipertahankan oleh Mujahidin sebagai basis perlawanan? Yang jelas situasinya sudah beda. Perlawanan dari Panjshir kepada Uni Sovyet di masa lalu itu didukung negara barat, Amerika dan dan sekutunya, serta negara Timur Tengah lainnya, kini perlawanan mereka dilakukan secara sendirian. Tak ada negara yang resmi dan diam-diam membantu mereka.          

Dan memang wilayah Panjshir telah menjadi pusat perlawanan sejak Afghanistan berada di bawah pendudukan Soviet pada 1980-an. Itulah mengapa analisis komparatif operasi Angkatan Darat ke-40 Soviet di lembah pada tahun 1982 akan sangat membantu.: 

Baca juga : Dampak Konflik Afghanistan terhadap Tahanan Guantanamo

Saat ini, beberapa analis memperkirakan kepemimpinan Taliban akan menghadapi tantangan yang sama ketika mereka mencoba untuk mengendalikan provinsi Panjshir dan Parwan, dan bahwa konflik di wilayah ini mungkin akan berubah menjadi cobaan berat dan berlarut-larut.

Namun, para ahli ini tidak mempertimbangkan fakta bahwa, pada hari itu, pasukan Ahmad Shah Massoud yang bertempur di Panjshir telah dilengkapi dengan senjata, amunisi, persediaan medis, dan tentara terlatih dari beberapa negara yang mendukung oposisi Afghanistan. Pada tahun 1982, dan selama periode perang 1979–1989, pendukung mereka adalah Amerika Serikat, Cina, Pakistan (Islamabad yang pada dasarnya berpartisipasi sebagai salah satu pihak yang berkonflik). Ini juga termasuk Iran, monarki Teluk, dan beberapa negara Eropa Barat..

Namun, pertama-tama, mari kita ingat bahwa, selama perang 1979–1989, provinsi Panjshir tidak ada. Didirikan pada tahun 2004. Sebelum itu, sebagian besar Lembah Panjshir adalah bagian dari Parwan dan Kapisa. Saat kita berbicara tentang operasi 1982 di wilayah tersebut, kita akan menganalisis strategi yang diadopsi oleh para pejuang oposisi Afghanistan pada saat itu.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement