Kamis 19 Aug 2021 05:01 WIB

Aneh, Ada Presiden yang Kabur Gondol Uang Kala Kabul Jatuh

Kisah kebanalan Presiden Afghanistan Asraf Ghani

Pejuang Taliban berpatroli di lingkungan Wazir Akbar Khan di kota Kabul, Afghanistan, Rabu, 18 Agustus 2021.
Foto: AP/Rahmat Gul
Pejuang Taliban berpatroli di lingkungan Wazir Akbar Khan di kota Kabul, Afghanistan, Rabu, 18 Agustus 2021.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika.

Mantan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani melarikan diri ke luar negeri dalam detik-detik terakhir saat Kabul akan jatuh ke dalam kekuasaan Taliban. Tak hanya meninggalkan bangsanya dalam posisi genting, tindakan pengecut Ashraf Ghani itu semakin buruk karena dia membawa lari uang senilai 169 juta dolar AS.

Uang itu dimasukkan ke dalam koper-kopernya untuk diangkut memakai helikopter. Maka badan helikopter pun penuh berisi uang tunai. Bahkan, dalam laporan media Rusia melalui laporan seorang intelijennya di Kabul, saking banyaknya uang yang dicuri, beberapa koper milik Ghani terpaksa ditinggal begitu saja di landasan. Itu karena helikopter sudah tak bisa memuat uangnya lagi.

Setelah itu Ghani diindikasikan kabur ke Uzbekistan. Tapi, di sana pelariannya ditolak mentah-mentah oleh penguasa setempat. Lalu terbang ke Tajikistan dan di sana juga tak diterima. Setelah itu, dia kemudian melarikan diri ke Dubai. Dan oleh penguasa Dubai dia kemudian diberikan suaka dengan "alasan kemanusiaan". Setelah itu baru kemudian kabur ke Amerika Serikat sampai kini.

 

Seperti dilansir dailymail.co.uk, Ghani melarikan diri dari negara itu pada Ahad malam ketika Taliban mengepung ibu kota. Alasan melarikan diri, dia mengatakan ingin menghindari pertumpahan darah. Sikapnya yang pengecut ini menjadi pertanda untuk mengakhiri kemenangan militer rezimnya yang membuat Taliban bisa dengan leluasa merebut Kabul dan semua kota penting lainnya di Afghanistan hanya dalam tempo 10 hari saja. Kisah ini mirip operasi bersandi "serangan kilat" bala tentara Hitler kala menduduki kota-kota Eropa dahulu.

Dilaporkan media itu, Ghani kabur memang dengan membawa serta empat mobil dan sebuah helikopter yang memuat 169 juta dolar dalam kantong uang tunai. Dailymail menyatakan, Ghani tampaknya terpaksa meninggalkan sebagian uangnya karena tidak semuanya muat dalam penerbangan.

Baca juga : Ghani: Saya tak Ingin Digantung Sebagai Seorang Presiden

Media Inggris itu juga melaporkan, Ghani awalnya melarikan diri ke Tajikistan, tetapi dialihkan ke Oman ketika para pejabat di Dushanbe menolak izinnya untuk mendarat. Sebelumnya dilaporkan, Ghani telah melarikan diri ke Uzbekistan.

Namun, Uni Emirat Arab mengatakan, hari ini bahwa mereka menjamu Presiden Afghanistan Ashraf Ghani di Dubai "atas dasar kemanusiaan". "Kementerian Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional UEA dapat mengonfirmasi bahwa UEA telah menyambut Presiden Ashraf Ghani dan keluarganya ke negara itu dengan alasan kemanusiaan," katanya dalam sebuah pernyataan singkat.

Rusia juga mengatakan, pada saat itu pihaknya masih akan mempertahankan kehadiran diplomatik di Kabul. Dan mereka berharap untuk mengembangkan hubungan dengan Taliban meski mereka juga mengatakan tidak akan terburu-buru  mengakui Taliban sebagai penguasa negara itu. Rusia akan mengamati dengan cermat perilaku Taliban dan apa yang akan mereka lakukan.

"Adapun keruntuhan rezim itu paling fasih atau jelas kemudian ditandai dengan cara Ghani melarikan diri dari Afghanistan," kata Nikita Ishchenko, juru bicara kedutaan Rusia di Kabul, seperti dikutip oleh RIA pada 16 Agustus.

Ishchenko juga mengatakan memang ada empat mobil penuh dengan uang dan Ghani mencoba memasukkan bagian lain dari uang itu ke dalam helikopter. Tetapi, tidak semuanya muat dan sebagian dari uang itu dibiarkan tergeletak di aspal landasan.

Ishchenko selaku juru bicara kedutaan Rusia membenarkan komentarnya itu kepada Reuters. Dia mengutip "saksi'" sebagai sumber informasinya. Reuters tidak dapat secara independen mengonfirmasi kebenaran pernyataannya dengan segera.

Baca juga : Jokowi Daulat Purnapaskibraka 2021 Jadi Duta Pancasila

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement