Jumat 02 Jul 2021 13:45 WIB

Ratusan Orang Protes Soal Uighur di Kedubes China di Inggris

AS, Kanada, dan Belanda menyebut tindakan China terhadap Uighur sebagai genosida.

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Ani Nursalikah
Ratusan Orang Protes Soal Uighur di Kedubes China di Inggris. Ratusan orang unjuk rasa di luar kantor kedutaan China, Kamis (1/7). Mereka memprotes perlakuan pemerintah China terhadap kaum minoritas Muslim Uighur ketika China memperingati peringatan 100 tahun Partai Komunis China.
Foto:

Pada September lalu, sebuah laporan menemukan China telah membangun 380 kamp penjara untuk menahan Muslim Uighur. Laporan sebelumnya oleh sarjana China Adrian Zenz mengklaim China mensterilkan wanita Uighur dan memenjarakan ribuan Muslim.

Menanggapi semua tuduhan, pihak berwenang China membantah. Mereka menyebut kamp pendidikan itu sebagai pelatihan untuk mengatasi ekstremisme agama. Tahun lalu, sebuah penyelidikan oleh Associated Press menemukan orang Uighur diancam karena memiliki terlalu banyak anak.

Penyelidikan juga menemukan penurunan dramatis dalam angka kelahiran. Ini mengubah dinamika populasi provinsi Xinjiang dari salah satu daerah dengan pertumbuhan tercepat di China menjadi yang paling lambat. Bukti menunjukkan denda yang besar dan kuat juga diberlakukan untuk pelanggaran undang-undang keluarga berencana.

Berdiri melawan Partai Komunis China

Dilansir Middle East Eye, Jumat (2/7), mahasiswa China dari Hong Kong, Jonathan, datang untuk menunjukkan dukungannya selama protes tersebut. “Situasi keamanan jauh lebih buruk bagi orang-orang di Xinjiang daripada di Hong Kong,” kata Jonathan yang juga meminta agar nama aslinya tidak digunakan.

Jonathan datang ke Inggris untuk mempertahankan hak kebebasan bersuara dan menggunakan ini untuk melawan Partai Komunis serta semua tindakan yang dilakukan terhadap orang Uighur. Sampai sekarang, Asiya sangat khawatir akan keselamatan saudaranya di China.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement