Rabu 14 Oct 2020 23:54 WIB

3 Tahapan Penyucian Jiwa Menurut Said Hawwa

Terdapat 3 tahapan menyucikan jiwa dalam pandangan Said Hawwa.

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Nashih Nashrullah
Terdapat 3 tahapan menyucikan jiwa dalam pandangan Said Hawwa. Berdzikir. Ilustrasi
Foto: Thoudy Badai/Republika
Terdapat 3 tahapan menyucikan jiwa dalam pandangan Said Hawwa. Berdzikir. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Jiwa manusia dapat dibagi dalam tiga keadaan, yakni annafs al-muthma'innah, an-nafs al-lawwa mah, dan an-nafs la'ammarat bis su'.

Dengan menyadari tiga kondisi nafs itu, menurut Said Hawwa, dalam Tarbiyatuna ar-Ruhiyah, maka perlu adanya penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Menurut Said Hawwa, tazkiyatun nafs pada hakikatnya menjauhkan diri dari kemusyrikan, mengakui keesaan Allah SWT, serta meneladani akhlak Rasulullah SAW tercinta.

Baca Juga

Ada tiga fase yang mesti dilalui, yaitu tathahhur, tahaqquq, dan takhalluq. Tahap pertama berarti memfokuskan hati dan pikiran hanya kepada Allah SWT. Kuncinya adalah dzikir, baik secara lisan, batin, maupun perbuatan.

Kepaduan dzikir ini digambarkan dalam surat Ali Imran ayat 191. 

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” 

Di dalamnya, Allah menyinggung orang-orang yang mengingat-Nya baik da lam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring. Mereka itu menyadari tanda-tanda kekuasaan Allah di langit dan bumi.

Tahap kedua dapat diartikan sebagai perwujudan sifat-sifat Allah yang mulia dalam aktivitas seorang Muslim. Semboyannya adalah berakhlak sebagaimana akhlak Tuhan. Misalnya, salah satu sifat Allah adalah ar-Rahmaan dan ar-Rahiim.  

Maka dari itu, seseorang hendaknya cenderung bersifat pengasih dan penyayang terhadap sesama. Tahap ketiga adalah membiasakan akhlak-akhlak baik ke dalam kehidupan sehari-hari.  

Ini adalah puncak perwujudan disiplin diri, sehingga jiwa cenderung pada kondisi ideal, an-nafs al-muthma'innah. Demikianlah gagasan-gagasan sang salik, Said Hawwa, yang wafat pada 9 Maret 1987 itu.   

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement