Rabu 16 Sep 2020 23:45 WIB

Kematian Indah untuk Mukmin, Tapi Jangan Mengharapkannya

Rasulullah melarang umatnya untuk mengharap-harapkan kematian.

Rep: Ali Yusuf/ Red: Nashih Nashrullah
Rasulullah melarang umatnya untuk mengharap-harapkan kematian.  Ilustrasi kematian.
Foto: Republika/Yogi Ardhi
Rasulullah melarang umatnya untuk mengharap-harapkan kematian. Ilustrasi kematian.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Kematian mengubah semua keadaan yang mengalaminya, canda tawa menjadi tangisan, kegembiraan menjadi kesedihan.  

 

Baca Juga

Ustadz Khalilurrahman El Mahfani dalam bukunya "Menguak Rahasia Kehidupan Setelah Kematian" mengatakan, jika manusia memperoleh husnul khatimah yang berarti menikmati jamuan surga atau sebaliknya su'ul khatimah yang berarti pedihnya siksa api neraka. 

 

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah bersabda:

لا تَمَنَّوْا الْمَوْتَ ، فَإِنَّ هَوْلَ الْمَطَّلَع شَدِيدٌ "Janganlah kamu mengharap-harap kematian, karena huru-hara itu sangat dahsyat." 

 

Ketika Sayidina Umar bin Kattab ditikam, seorang sahabat berkata kepadanya, "Aku berharap kulit Anda tidak tersentuh oleh api neraka."

 

Sejenak Umar memandang kepadanya seraya berkata,”Sungguhnya orang yang kamu anggap tertipu memang orang yang tertipu. Demi Allah seandainya aku punya apa yang ada di bumi akan aku gunakan untuk merebus dahsyatnya huru-hara maut."

 

Abu Darda mengatakan, ”Ada tiga orang yang membuat aku tertawa karena lucu, ada tiga hal yang membuat aku menangis sedih. Orang yang membuat aku tertawa karena lucu adalah orang yang masih mengangan-angankan dunia, padahal dia sedang diburu oleh maut, orang yang lalai tapi tidak merasa lalai dan orang yang tertawa lepas namun tidak tahu apakah Allah meridhainya atau murka kepadanya. 

 

Sementara tiga hal yang membuat aku menangis ialah berpisah dengan orang-orang tercinta seperti Muhammad dan sahabat-sahabatnya, menghadapi huru-hara kematian, dan berdiri di hadapan Allah pada hari semua yang tersembunyi akan terangkat dan aku tidak tahu masih terus ke surga atau ke neraka."

 

Imam Al-Ghazali melukiskan bahwa sakaratul maut adalah ungkapan tentang rasa sakit yang menyerang inti jiwa dan menjalar ke seluruh bagian. Sehingga tidak lagi satupun bagian jiwa yang terbebas dari rasa sakit itu. 

 

Misalnya kata dia, rasa sakit tertusuk duri saja menjalar pada bagian jiwa yang terletak pada anggota badan yang tertusuk duri saja, sedangkan pengaruh luka bakar lebih luas karena api menyebar ke bagian tubuh yang lain sehingga tidak ada bagian dalam ataupun luar yang tidak terbakar. "Dan efek terbakarnya kulit itu dirasakan oleh bagian-bagian organ yang berada di bagian daging," katanya.

 

Adapun luka tersayat pisau hanya akan menimpa bagian tubuh yang terkena sayatan dan Karena itulah rasa sakit yang diakibatkan oleh luka tersayat pisau lebih ringan daripada luka bakar.

 

Akan tetapi, rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota badan.

 

Sehingga bagian badan orang yang sedang sakaratul maut merasakan dirinya ditarik-tarik dicabut setiap yang melekat pada organ tubuhnya dari ujung kaki hingga kepala. Tidak dapat dibayangkan bagaimana sakit sakaratul maut. "Jadi bagaimana kira-kira rasa sakit yang diderita seseorang yang mengalaminya?" kata Ustadz. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement