Sabtu 14 Feb 2026 06:13 WIB

Makna Sosial di Balik Tradisi Munggahan Jelang Ramadhan

Tradisi ini bertujuan pererat silaturahim sebelum dimulainya ibadah puasa Ramadhan.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Hasanul Rizqa
Sejumlah warga makan bersama saat tradisi Munggahan di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Tradisi munggahan itu bertujuan untuk silaturahmi antarkampung sebelum menjalankan ibadah puasa Ramadhan.
Foto: ANTARA FOTO/Adeng Bustomi
Sejumlah warga makan bersama saat tradisi Munggahan di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Tradisi munggahan itu bertujuan untuk silaturahmi antarkampung sebelum menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menjelang bulan suci Ramadhan 1447 H/2026 M, munggahan menjadi salah satu tradisi yang kerap dilakukan masyarakat Indonesia. Sosiolog IPB University Dr Ivanovich Agusta mengungkapkan, bentuk adat istiadat itu bukan sekadar kebiasaan turun-temurun.

Menurut Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) IPB University ini, tradisi tersebut merupakan sebuah strategi sosial untuk memperkuat solidaritas. Di samping itu, tujuannya juga memperbarui relasi serta menjaga identitas budaya lokal.

Baca Juga

"Dari perspektif sosiologi, munggahan sebagai ritus sosial yang menandai peralihan menuju fase religius yang lebih intens. Tradisi ini berfungsi sebagai penanda waktu sosial (social marker) yang membantu masyarakat menyusun ritme kolektif: kapan memperbaiki diri, memulai disiplin ibadah, serta menguatkan komitmen moral bersama," ujar Dr Ivanovich Agusta dalam keterangan tertulis pada Jumat (13/2/2026).

Selain itu, munggahan berperan sebagai meanisme rekonsiliasi sosial melalui tindakan saling memaafkan. Ini dapat memperbaiki relasi yang renggang serta memulihkan harmoni "ke-kita-an" (sense of belonging) dalam komunitas.

"Interaksi semacam ini empertebal modal sosial, yaitu kepercayaan, jaringan pertolongan, dan norma timbal balik," jelas Ivanovich.

Dalam ranah kekeluargaan, tradisi ini menyediakan ruang memperbarui ikatan lintas generasi anak, orang tua, hingga kerabat jauh, yang dalam kehidupan modern sering terfragmentasi oleh kesibukan. Munggahan juga memperluas solidaritas ke tetangga dan komunitas sekitar.

"Munggahan menunjukkan cara masyarakat menyatukan identitas budaya lokal dengan nilai keagamaan. Tradisi ini menegaskan bahwa agama tidak hanya dipraktikkan secara individual, tetapi dilembagakan melalui simbol, kebiasaan, dan pertemuan komunitas," jelas Ivanovich.

Ia pun menekankan pentingnya menjaga otentisitas munggahan. Praktik yang inklusif, melibatkan tetangga, kelompok rentan, dan warga yang terpinggirkan dinilainyapenting agar munggahan tidak menjadi tradisi eksklusif.

"Untuk generasi muda, munggahan harus dipahami sebagai sarana meningkatkan kualitas hubungan antarmanusia, bukan sekadar pengulangan kegiatan. Adaptasi boleh dilakukan pada tempat atau format, tetapi prinsip kesederhanaan, kepedulian, dan kebersamaan harus tetap dijaga," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement