Jumat 08 May 2020 01:43 WIB

Perhatian Bagi UMKM Diperlukan untuk Bangkitkan Ekonomi Umat

Para pengusaha kini berusaha bertahan dengan cara beradaptasi saat Pandemi Covid-19.

Rep: Febrianto Adi Saputro/ Red: Muhammad Fakhruddin
Pengusaha sekaligus Mentri Perdagangan 2014 Muhammad Lutfi menyampaikan materi pada acara Rabu Hijrah berjudul Kebangkitan Ekonomi Umat, di Masjid Al Furqon, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Kota Bandung, Rabu (27/3).
Foto: Republika/Edi Yusuf
Pengusaha sekaligus Mentri Perdagangan 2014 Muhammad Lutfi menyampaikan materi pada acara Rabu Hijrah berjudul Kebangkitan Ekonomi Umat, di Masjid Al Furqon, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Kota Bandung, Rabu (27/3).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pandemi Covid-19 memberikan dampak serius terhadap perekonomian Indonesia. Mantan menteri Perdagangan RI Muhammad Lutfi menilai saat ini dibutuhkan para pengusaha yang mampu memacu perekonomian berdasarkan industri kreativitas dan teknologi demi bisa bertahan melewati pandemi ini.

"Kita harus memacu kreatifitas dan bagaimana kita bisa memotong jalur daripada perdagangan dunia," kata Lutfi dalam keterangan tertulis, Kamis (7/5).

Hal tersebut menjadi topik pembahasan pada Talkshow Komunitas Rabu Hijrah yang mengangkat tema "Pengusaha dan Kebangkitan Ekonomi Umat" hari ini Rabu (6/4) sore.

Diskusi yang dilaksanakan via Zoom Meeting ini, mengundang beberapa narasumber yang merupakan pengusaha, pelaku industri, maupun pengamat kebijakan nasional. Serta dihadiri oleh lebih dari 20 ketua organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan Islam Indonesia.

Pembicara yang terlibat ialah Menteri Perdagangan RI 2014 Muhammad Lutfi, Ketua Kamar Dagang Indonesia, Rosan Roslaeni, Dirut Bank Syariah Mandiri Tony Eko Boy, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Mardani H Maming, dan Arief Rosyid selaku host.

Muhammad Lutfi yang juga pembina Komunitas Rabu Hijrah tersebut mengatakan saat ini kondisi perekonomian dunia sedang terguncang. Ia mencontohkan di Amerika Serikat saat ini ada 30 juta orang yang tidak bekerja. 

"Ini berlanjut kepada situasi yang lain di mana kita bisa melihat bahwa intervensi pemerintah itu menjadi sedemikian sedikitnya," ujarnya diskusi daring dengan tema 'Pengusaha dan Kebangkitan Ekonomi Umat'.

Kemudian Ketua Kadin Rosan Roeslani sepakat bahwa perlu kerjasama antar pengusaha dan pemerintah karena perekonomian nasional yang mengalami tekanan berat. Kondisi ini diperparah sebab ada dua hal yang terkena dampak yakni kesehatan dan ekonomi yang harus dicarikan solusinya secara bersamaan. 

"Jika saya sharing dengan teman teman pengusaha. ‘Napas’ mereka tuh untuk bertahan mungkin tersisa 2 atau 4 bulan ke depan. Apabila Covid-19 berlanjut maka tekanan terhadap perekonomian akan semakin panjang oleh sebab itu kebijakan dari pemerintah kita harapkan memang fokus pada bagaimana masalah kesehatan ini dapat menjadi skala prioritas yang utama," ujarnya.

Rosan menambahkan para pengusaha kini berusaha bertahan dengan cara beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan industri kreatifitas. Demi dapat bertahan sembari menunggu masalah Covid-19 mereda.

"Jadi dunia usaha sekarang mood-nya bertahan dululah. Saat ini dibutuhkan kreativitas, inovasi, melek teknologi dan proses digital. Saya lihat mulai banyak yang berinovasi sekarang, tekstil sudah mulai bikin masker dan APD sementara perusahaan mobil membuat ventilator setidaknya bisa membuat mereka bertahan dulu lah," jelasnya. 

Sementara itu Ketua Umum Hipmi Mardani H Maming mengaku saat ini para pengusaha di Hipmi terutama di sektor UMKM mengalami kesulitan pinjaman dan butuh kelonggaran pendanaan dari pihak perbankan maupunpemerintah untuk menghindari badai PHK. Menurutnya semua pihak perlu sama-sama mengawasi pinjaman sebanyak 10 miliar untuk pelaku UMKM.

Apakah program dari perintah presiden itu memang sudah berjalan baik di lapangan. "Kami berharap kelonggaran terkait bunga agar UMKM bisa tetap bertahan dan tidak melakukan PHK," ungkapnya.

Kemudian Direktur Utama Bank Syariah Mandiri Tony Eko Boy mengatakan seharusnya perbankan bisa menyelamatkan sektor UMKM sesuai amanah presiden. Menurut dia konsep perbankan syariah jika telah massif dilaksanakan di Indonesia maka setidaknya dapat membantu sektor-sektor yang paling terdampak seperti UMKM. 

"Ini pendapat pribadi dari pengalaman saya 25 tahun lebih di perbankan konvensional saya melihat konsep perbankan syariah ini sangat bagus sekali karena konsepnya pendana menginvestasikan dananya kepada bank. Bank kemudian menempatkan kepada siapa yang memerlukan dana itu untuk bisnis dengan konsep apakah murabahah jual beli, sewa hasil atau sewa menyewa. Jadi tidak ada konsep yang sumber dana meminta bunga sekian persen," tuturnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement