Jumat 28 Feb 2020 04:35 WIB

Din Syamsuddin: Politik Sektarian Terus Tampil di Indonesia

Umat Islam sebagai mayoritas tidak cukup memiliki kuasa politik.

Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin (kiri) memberikan paparan pada Sidang Pleno Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VII di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (27/2).
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin (kiri) memberikan paparan pada Sidang Pleno Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VII di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (27/2).

REPUBLIKA.CO.ID,PANGKAL PINANG -- Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia, Din Syamsuddin berpendapat, bahwa "politik sektarian" terus tampil dalam kehidupan berdemokrasi di Indonesia.

"Perpolitikan nasional selama ini cenderung menampilkan 'politik sektarian' atau politik yang menonjolkan identitas dan kelompok," katanya di Pangkalpinang, Babel, Kamis (27/2).

Din Syamsuddin mengatakan itu saat menjadi narasumber dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VII di Pangkalpinang, Babel, dengan judul makalah "Agenda Strategis Umat Islam Membangun Indonesia Maju, Adil, Makmur, Berdaulat dan Bermartabat".

"Terus tumbuh dan berkembangnya politik sektarian, menjadi masalah bangsa karena terjadi persilangan antara masalah bangsa dan masalah umat Islam," katanya.

Namun pada sisi lain, kata dia, umat Islam sebagai mayoritas tidak cukup memiliki kuasa politik baik karena diri sendiri maupun akibat rekayasa dari luar.

"Akibatnya umat Islam kurang mendapat peran kebangsaan secara optimal dan bangsa kehilangan peluang besar dari sebuah kekuatan nasional," ujarnya.

Menurut dia, politik sektarian yang dihantui imajinasi semu terhadap Umat Islam dan hasrat untuk mengalahkannya mendorong "perang dingin" berkepanjangan di bawah permukaan.

"Ini permasalahan kebangsaan besar Indonesia saat ini, maka Umat Islam harus merasa memiliki tanggungjawab besar dan untuk kemajuan bangsa menuju cita-citanya maka agenda strategis umat Islam Indonesia perlu ditingkatkan," ujarnya.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement