Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Tuesday, 14 Sya'ban 1441 / 07 April 2020

Makna di Balik Doa Menyambut Bulan Rajab

Selasa 25 Feb 2020 14:10 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Ani Nursalikah

Makna di Balik Doa Menyambut Bulan Rajab.

Makna di Balik Doa Menyambut Bulan Rajab.

Foto: Pixabay
Keshahihan doa Rajab masih diperdebatkan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bulan Rajab merupakan salah satu dari empat bulan haram atau bulan-bulan yang dihormati. Sebagaimana bulan-bulan haram yang lain, bulan Rajab memiliki nilai suci di sisi Allah SWT.

Karena itu, terdapat doa yang biasa diucapkan umat Islam tatkala memasuki bulan Rajab. Dalam sejumlah buku doa, terdapat doa Rajab yang disebut merupakan doa yang dibaca Rasulullah SAW tatkala sampai pada Rajab atau saat melihat hilal bukan Rajab.

Disebutkan Nabi Muhammad SAW menyambutnya dengan membaca doa ini: "Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya'ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan."

Dalam buku berjudul 24 Jam Hidup dengan Do'a dan Amal Harian Rasulullah yang ditulis oleh Abu Bakar bin As-Sina, doa itu diriwayatkan dari Ibnu Mani' yang memberitahukan 'Abdullah bin 'Amr Al-Qawariri`menceritakan Za'idah bin Abi Az-Zanad menceritakan, dia berkata: Ziyad An-Namiri menceritakan dari Anas bin Malik ra, dia berkata Rasulullah SAW apabila memasuki bulan Rajab, beliau mengucapkan doa itu.

Namun demikian, keshahihan doa Rajab ini sendiri masih diperdebatkan. Sebagian ulama menyatakan tidak ada doa atau zikir yang khusus dibaca pada Rajab. Bakr bin Abdullah Abu Zaid dalam bukunya berjudul Koreksi Do'a dan Zikir Antara yang Sunnah dan Bid'ah, misalnya, menuliskan apa yang berlaku di tengah masyarakat terkait doa yang disebut doa Rajab adalah sesuatu yang diadakan dan tidak ada dasarnya. Misalnya, zikir dan doa rajabiyah yang biasa dibaca pada malam tanggal 27 bulan Rajab untuk memperingati perayaan peristiwa Isra' Mi'raj.

Namun demikian, Wakil Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Miftahul Huda, mengatakan secara sanad, hadits tersebut bermasalah. Akan tetapi, secara substansi dan konten hadits tersebut tidak masuk dalam ranah akidah dan ibadah mahdlah (pokok).

Dalam hal ini, menurutnya, mengamalkan hadits dlaif (lemah) sangat dimungkinkan dalam ranah fadhail a'mal (keutamaan-keutamaan amal ibadah). Sementara menurut Imam Nawawi, tingkat kedlaifan (lemah) sanad dalam hadits ini tidak terlalu. Karenanya beliau memasukkan hadits tersebut dalam kitab Al-Adzkar (kumpulan doa dan wirid). Kitab Al-adzkar sendiri menjadi rujukan utama bagi sebagian besar umat Islam dalam amalan atau wirid yang disunnahkan dalam Islam.

"Kejadian atau peristiwa secara khusus tidak ada di balik doa ini, tetapi doa ini sangat penting untuk dipanjatkan selain untuk meminta keberkahan dari Allah, juga untuk mengingatkan kita untuk bersiap-siap menyambut bulan Ramadhan," kata Ustaz Miftah, melalui pesan elektronik kepada Republika.co.id, Selasa (25/2).

Terlepas dari perdebatan akan keshahihannya, Kepala Pengasuh Pondok Pesantren Al-Nahdlah Depok, Jawa Barat, ini mengatakan doa itu bisa dipanjatkan karena mengandung nilai yang baik sebagai bentuk permohonan kepada Allah semata. Ia lantas menjelaskan makna dari doa menyambut bulan Rajab tersebut,
 
Ia mengatakan, kata baarik lana fi rajaba memiliki makna meminta keberkahan dari bulan Rajab. Berkah sendiri adalah kata serapan dari bahasa Arab, yaitu dari kata barokah (البركة), yang secara bahasa berarti nikmat. Artinya, nikmat Allah yang mendatangkan kebaikan dalam kehidupan.

Sedangkan secara istilah, berkah berarti bertambahnya nilai-nilai kebaikan (زيادة الخير). Ia menuturkan kata Ziyadatul Khair bermakna segala sesuatu yang banyak dan melimpah yang mencakup kebaikan material maupun spiritual, seperti kelapangan rezeki, kemudahan berusaha, nikmat sehat, nikmat tenang dan aman, dan lainnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA