Selasa 03 Feb 2026 20:53 WIB

Sindiran Ibrahim bin Adham kepada Orang yang Bersedekah, Disebut Ketua Pengemis

Ibrahim bin Adham harus bercucuran keringat untuk menyambung hidup.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Muhammad Hafil
Ulama (ilustrasi)
Foto: Dok Republika
Ulama (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ibrahim bin Adham adalah raja Balkh yang memilih meninggalkan kursi kekuasaan untuk menjadi menyusuri jalan sufi dan para pecinta yang menceraikan dunia. Ibrahim bin Adham harus bercucuran keringat untuk menyambung hidup, terkadang ia harus menjual kayu bakar untuk bisa makan.

Suatu ketika, ada seseorang datang hendak memberi uang 1.000 Dinar kepada Ibrahim bin Adham.

Baca Juga

"Terimalah uang ini," katanya kepada Ibrahim.

"Aku tak mau menerima sesuatu pun dari para pengemis," jawab Ibrahim.

"Tetapi aku adalah seorang yang kaya," kata orang itu.

"Apakah engkau masih menginginkan kekayaan yang lebih besar dari yang telah engkau miliki sekarang ini?" tanya Ibrahim.

"Ya," jawab.

"Bawalah kembali uang ini! Engkau adalah ketua para pengemis. Engkau bahkan bukan seorang pengemis lagi tetapi seorang yang sangat miskin dan terlunta-lunta," jawab Ibrahim.

Demikian dikisahkan Fariduddin Attar pada abad ke-12 dalam kitab Tadzkiratul Auliya.

Ibrahim bin Adham dikenal sebagai ulama besar, tetapi ia justru takut dimuliakan. Demi menjaga keikhlasan, ia memilih menyamar, direndahkan, dipukuli dan hidup dari menjual kayu bakar.

Dalam tradisi tasawuf, kemuliaan sejati bukan terletak pada sanjungan manusia. Kisah Ibrahim bin Adham menunjukkan bagaimana seorang ulama besar rela menolak penghormatan demi menjaga hatinya tetap dekat kepada Allah SWT.

Dikisahkan Fariduddin Attar pada abad ke-12 dalam kitab Tadzkiratul Auliya, setelah 14 tahun lamanya Ibrahim bin Adham mengarungi padang pasir. Selama itu pula ia senantiasa berdoa dan merendahkan diri kepada Allah SWT.

photo
Infografis Ciri Orang Bertaqwa - (Dok Republika)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement