Senin 24 Feb 2020 13:19 WIB

UAS Ajak Lembaga Zakat Bantu Suku Talang Mamak

Suku Talang Mamak masih berpegang kuat dengan adat dan beragama Islam.

Rep: Kiki Sakinah / Red: Agus Yulianto
UAS menginisiasi program Tolong Talang Mamak.
Foto: Istimewa
UAS menginisiasi program Tolong Talang Mamak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Permasalahan Suku Talang Mamak, masyarakat adat asli, di Provinsi Riau, sejak lama telah menjadi perhatian Ustaz Abdul Somad (UAS) dan juga sejumlah lembaga lainnya. Ketimpangan ekonomi menjadi masalah utama masyarakat Talang Mamak. Hal ini kemudian berdampak pada masalah pendidikan, dakwah dan sosial di sana.

Ustaz Alnofriadi Dinar selaku Da'i Ambassador Dompet Dhuafa Riau mengatakan, anak-anak suku Talang Mamak kerap libur sekolah dan mengaji karena dibawa orang tua mereka ke hutan. Untuk bertahan hidup, mereka terpaksa menemani orang tuanya mencari komoditi yang akan dijual. Dalam sebulan, mereka bisa libur sepekan hingga dua pekan.

Hal ini kemudian menarik perhatian UAS dengan menginisiasi  Program Tolong Talang, yang telah dimulainya sejak 2017. Program ini merupakan bagian dari kegiatan Yayasan Muara, yang juga dipimpin UAS.

Tahun ini, program Tolong Talang kembali dilakukan oleh UAS. Program Tolong Talang 2020 ini juga diikuti oleh sejumlah lembaga, di antaranya Dompet Dhuafa Riau, LAZIS DDII, YBM PLN, Baznas Provinsi Riau, Komunitas My Trip My Dakwah, FPI, Yayasan Muara, dan Sahabat UAS.

photo
Keluarga suku Talang Mamak

Semua lembaga ini berkontribusi dalam bentuk bantuan bahan sembako, biji holtikultura, alat kebersihan dan kesehatan, sunatan massal, buku Iqra', dan layanan kesehatan gratis.

Perjalanan menuju Suku Talang Mamak ini dimulai sejak 18 Februari 2020 lalu dari Pekanbaru, Riau. Dalam perjalanan itu, UAS dan rombongan Tolong Talang 2020 sempat melakukan tabligh akbar penggalangan dana untuk Tolong Talang. UAS dan rombongan menuju Dusun Lemang Desa Rantau Langsat.  

Di Masjid Al-Muhajirin di Dusun Air Bomban, UAS mengajar anak-anak mengaji pada malam hari, setelah Magrib sampai Isya. Sedangkan setelah Subuh, UAS menyampaikan tausiyah dengan metode tadabbur ayat Alqur'an.

"Dalam Tausiyah setelah Subuh, UAS menekankan agar semua lembaga dan individu yang menjadi peserta Tolong Talang 2020 agar selalu solid dalam menolong Suku Talang dengan landasan takwa dan berserah diri kepada Allah. Jangan bercerai dan bergerak sendiri-sendiri," kata Ustaz Alnof, melalui pesan elektronik kepada Republika.co.id, beberapa waktu lalu.

Perjalanan menyusuri masyarakat yang hidup masih secara tradisional di sehiliran Sungai Indragiri ini harus dilewati dengan menyeberang sungai, mendaki dan menuruni bukit. Rombongan Tolong Talang ini berada di pedalaman Suku Talang Mamak selama tiga hari.

Meski telah dimulai sejak 2017, namun permasalahan yang dihadapi di Suku Talang Mamak belum selesai. Sebelumnya, anak-anak Talang Mamak telah disekolahkan dan sebagian hampir selesai menjalani pendidikan. Selain itu, agar mereka mau pulang dan mengabdi di kampung, pesantren juga telah dibuatkan.

photo
Suku Talang Mamak (Istimewa)

Namun, untuk mau menjadi guru di kampung mereka, mereka harus digaji. Jika tidak, mereka bisa melirik kampung lain dan tidak mengabdi di wilayah Suku Talang Mamak sendiri.

Sebagai solusi, UAS mengatakan, bahwa sekolah anak-anak Talang Mamak itu harus segera diselesaikan. Lalu, kader-kader itu ditugaskan untuk membangun orang kampung mereka sendiri dengan cara mengajar.

Selanjutnya, program Tolong Talang ini yang akan menggaji mereka. Dengan demikian, tidak perlu lagi mengirim dai dan guru dari luar untuk mengajar masyarakat Suku Talang Mamak ini.

"Para guru dari Suku Talang Mamak yang digaji, harus didukung dengan kurikulum, silabus, dan bahan ajar. Majelis Sunan al-Musthafa di Pekanbaru kita minta membuat konsepnya. Anak-anak yang kita kader kita minta mengajar ibu-ibu 4 kali sebulan. Bapak-bapak 4 kali sebulan. Khutbah Jum'at 4 kali sebulan. Setiap hari mereka mengajar anak-anak yang belajar di pesantren dan setiap malam mereka mengajar mengaji di masjid/mushalla. Materi utama yang diajarkan perkara-perkara pokok agama yang harus diketahui seorang muslim dan pengetahuan dasar selaku manusia untuk hidup," kata UAS, seperti dikutip Ustaz Alnof.

Dai yang paham agama dan adat dengan baik

Di malam terakhir kegiatan, tim Tolong Talang 2020 menggelar Bincang Adat untuk mengetahui fakta terkini dan mencarikan solusi bagi Suku Talang. Semua peserta ikut bermusyawarah di masjid Al Muhajirin Dusun Air Bomban.

photo
UAS memberi ceramah agama seusai Shalat Subuh berjamaah bersama warga suku Talang Mamak. (Foto :Istimewa)

Sebagian masyarakat Suku Talang Mamak masih berpegang kuat dengan adat dan beragama Islam. Namun, mereka menyebutnya dengan nama Islam langkah lama. Sebagian lagi masih belum beragama.

Dalam islam langkah lama, ada kebiasaan negatif masyarakat Suku Talang Mamak. Mereka punya banyak pesta, seperti pesta lahiran, pesta khitanan, dan menikah bahkan meninggal pun pesta. Dalam pesta mereka ada perjudian. Perjudian ini menjadi ajang perputaran dana sekitar Rp 15 juta. Hal inilah yang dinilai bisa memiskinkan mereka.

Budaya buruk lainnya dari Suku Talang Mamak adalah kebiasaan bertandang. Anak bujang boleh mendatangi anak perempuan, menginap di kamarnya, dan pulang sebelum burung berkicau. Akhirnya, mereka banyak menikah muda.

Di antara yang paling menghambat pengIslaman Suku Talang adalah rumah orang Talang yang memiliki 3 ruang. Setiap ruang memiliki fungsi terpisah. Jika anggota rumah ada yang masuk Islam, mereka tidak boleh berinteraksi dengan keluarga mereka di rumah mereka, dan harus berada di ruang terpisah.

"Karena itu, untuk kemajuan dakwah ke depan, diperlukan dai yang paham agama dan menguasai adat dengan baik. Sehingga, lebih banyak masyarakat yang diajak muallaf kepada agama Islam sesungguhnya. Kaderisasi dai dari suku Talang Mamak sendiri mutlak harus dilakukan," kata UAS. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement