Kamis, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 Februari 2020

Kamis, 26 Jumadil Akhir 1441 / 20 Februari 2020

Mahasiswa Asal Saudi Ciptakan Teknologi Atasi Limbah Makanan

Rabu 22 Jan 2020 14:40 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Muhammad Hafil

Limbah makanan

Limbah makanan

Teknologi yang diciptakannya ini tidak lepas dari masalah limbah makanan.

REPUBLIKA.CO.ID, JEDDAH -- Seorang mahasiswa di Arab Saudi meluncurkan sebuah startup Silicon Valley untuk mengatasi masalah limbah makanan. Mahasiswa Universitas Sains dan Teknologi Raja Abdullah, Asrar Damdam, mendirikan UVera, sebuah perusahaan biotek yang menggunakan teknologi inovatif untuk meningkatkan daya simpan makanan segar.

Teknologi yang diciptakannya ini tidak lepas dari masalah limbah makanan yang menjadi masalah global, yang menurut Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menjadi masalah yang menelan biaya 35 miliar dolar per tahun.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, sepertiga dari makanan yang diproduksi untuk konsumsi manusia hilang atau terbuang. Sementara ada jutaan orang di dunia kelaparan. Karena itulah, Damdam mendirikan UVera dengan tujuan untuk membantu mengurangi separuh limbah makanan pada 2030 dengan menggunakan teknologi dan inovasi.

"Selain dampak ekonomi, limbah makanan bertanggung jawab untuk mengirim 3 miliar metrik ton gas rumah kaca ke atmosfer, berkontribusi terhadap perubahan iklim," kata Damdam kepada Arab News, dilansir pada Rabu (22/1).

Solusi bebas bahan kimia dari ilmuwan berusia 26 tahun itu menggunakan sinar ultraviolet (UV) spesifik untuk mensterilkan makanan, menghancurkan berbagai jenis bakteri, virus, dan patogen yang menyebabkan pembusukan.

"Pengaruh teknologi kami telah dibuktikan dengan eksperimen dan pemeriksaan ilmiah, dan menunjukkan hasil positif pada berbagai jenis produk segar, termasuk daging," katanya.

Perusahaannya ini didirikan pada Juni 2019 lalu. Startup miliknya memiliki hak kekayaan intelektual untuk teknologinya, yang telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA).

Target pasar UVera adalah restoran. Metode pengawetan makanannya dinilai akan sangat berguna.

Pria yang sedang mengejar gelar Ph.D. dalam nanoteknologi ini mengatakan, tantangan terbesarnya adalah belajar tentang bisnis sambil membangun produk dalam jangka waktu minimal dan dengan dukungan keuangan yang terbatas. Dia bekerja hanya untuk membangun produk minimum yang layak (MVP), mengajukan paten, dan mengevaluasi kandidat yang tertarik untuk bergabung dengan perusahaannya.

"Itu cukup menantang mengingat sumber daya keuangan yang terbatas dan tingginya biaya hidup di California," tambahnya.

Namun, tim startup yang didirikannya kini mencakup keahlian gabungan di bidang teknik, teknologi, penelitian ilmiah, pengembangan bisnis, pemasaran, strategi dan pembuatan perangkat keras.

Petualangan Damdam di Silicon Valley dimulai dengan beasiswa Misk Foundation pada 2019 untuk mengikuti program pelatihan kewirausahaan di Universitas Draper. Lebih dari 780 lulusan program ini telah meluncurkan startup dan mengumpulkan lebih dari 220 juta dolar dalam dana ventura.

Damdam telah memenangkan kompetisi dalam presentasi singkat (pitching) yang diadakan oleh Draper University. Ia mengalahkan 116 peserta lainnya di 18 negara. Ia mengatakan, UVera mendapat peringkat ide bisnis investasi terbaik oleh lebih dari 30 pemodal ventura dan investor dari Silicon Valley.

Damdam mengungkapkan, sebagai seorang ilmuwan, ia ingin belajar tentang bisnis dan kewirausahaan dari para pakar dunia. Karena itu, ia mengatur rencana untuk mengadakan banyak pertemuan pribadi dengan para investor, pemodal ventura, pengacara, pengusaha, dan karyawan pemula untuk belajar dari pengalaman mereka.

Meski masih dalam masa pertumbuhan, UVera percaya teknologinya akan menambah nilai bagi setiap dapur, termasuk restoran. Startup ini meluncurkan putaran pengumpulan dana awal bulan ini.

Damdam lulus dari Universitas Effat di Jeddah dengan gelar sarjana di bidang teknik listrik dan komputer pada 2016. Dia menyelesaikan gelar magisternya di bidang elektrofisika di KAUST pada 2018.

Silicon Valley sendiri adalah rumah bagi 2.000 perusahaan teknologi terkemuka yang terletak di wilayah paling Selatan dari Teluk San Francisco di negara bagian California di Amerika Serikat. Tempat ini menawarkan pengusaha muda kesempatan untuk belajar dari para ahli dan memanfaatkan sumber daya pertama dari basis perkembangan teknologi.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA