Senin 06 Jan 2020 22:03 WIB

Pembunuhan Soleimani, PBNU: Kita tak Boleh Berpihak

PBNU menegaskan penyikapan Indonesia terkait Soleimana harus non-blok.

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah
Ayatollah Ali Khamenei dan President Hassan Rouhani melaksanakan shalat jenazah pada pemakaman Jenderal Qassem Soleimani,  dan komandan Milisi Abu Mahdi al-Muhandi di Teheran, Iran, Senin (6/1).
Foto: Nazanin Tabatabaee/WANA (West Asia News Agency) via Reuters
Ayatollah Ali Khamenei dan President Hassan Rouhani melaksanakan shalat jenazah pada pemakaman Jenderal Qassem Soleimani, dan komandan Milisi Abu Mahdi al-Muhandi di Teheran, Iran, Senin (6/1).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj, meminta agar pemerintah Indonesia tetap mengambil sikap non-blok terkait konflik Amerika Serikat dan Iran yang kembali mencuat pasca tewasnya jenderal militer Iran, Qassem Soleimani, pada Jumat (3/1) lalu.   

"Kita harus tegas mengambil politik bebas aktif non- blok. Tidak boleh kita berpihak kepada siapapun. Itu urusan mereka. Menurut saya begitu," ujar Kiai Said di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Senin (6/12).   

Baca Juga

Menurut dia, Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) sebenarnya telah mengupayakan agar Amerika Serikat dan Iran bisa damai. Namun, menurut dia, pada kenyataannya negara-negara di Timur Tengah tetap bergejolak sampai saat ini.   

"Itu sebenarnya sudah diusahakan. Tapi ya itulah kenyataannya di Timur Tengah ini selalu bergejolak. Tapi kita prinsipnya Indonesia harus tetap objektif, non-blok, bebas aktif," ucap Kiai Said.   

Dia menuturkan, Iran pasti tidak akan diam atas serangan Amerika Serikat yang menewaskan Qassem Soleimani. Bahkan, di Selat Bab El Mandeb dan di Selat Hormuz kini kapal perang sudah mulai lalu lalang. 

Menurut dia, konflik AS-Iran tersebut nantinya pasti juga akan berfampak pada Indonesia. "Dampak politik pasti. Iran gak akan diam pasti. Ini di Bab El Mandep dan di Hormuz sudah mulai lalu lalang kapal perang. Itu pasti dampaknya ke sini juga," katanya.  

Kendati demikian, menurut dia, umat Islam di Indonesia tidak perlu terlalu bergejolak dalam menyikapi tewasnya Qassem Soleimani. Apalagi, sampai melakukan demonstrasi.

"Nggak usah, nggak usah, tidak usah. Percuma tidak usah. Pernyataan boleh. Demo misalkan gak usah, itu belum tentu efektif, belum tentu membuahkan, menghasilkan apa yang kita harapkan. Yang jelas kita bebas aktif saja," jelas Kiai Said.  

Seperti diketahui, ketegangan di Timur Tengah meningkat menyusul langkah Amerika Serikat (AS) meluncurkan serangan yang menewaskan jenderal militer Iran, Qassem Soleimani, pada Jumat (3/1) lalu. 

Serangan itu direstui Presiden AS Donald Trump. Seorang pejabat senior administrasi Trump mengatakan, Soleimani telah merencanakan serangan segera terhadap personel AS di Timur Tengah.  

Soleimani, seorang jenderal berusia 62 tahun yang mengepalai pasukan Penjaga Revolusi Iran di luar negeri, dianggap sebagai tokoh paling kuat kedua di negara itu setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement