Ahad 22 Dec 2019 13:36 WIB

Marsudi: Boleh Ucapkan Natal Asal tak Ikuti Keimanannya

Ada pandangan berbeda yang melarang Muslim memberi ucapan selamat demi kehati-hatian.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Ratna Puspita
Toleransi (ilustrasi). Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Marsudi Syuhud menuturkan pengucapan selamat natal kepada umat Kristen yang merayakannya diperbolehkan selama dilakukan di ruang muamalah demi kebaikan sosial.
Foto: Republika/Prayogi
Toleransi (ilustrasi). Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Marsudi Syuhud menuturkan pengucapan selamat natal kepada umat Kristen yang merayakannya diperbolehkan selama dilakukan di ruang muamalah demi kebaikan sosial.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Marsudi Syuhud menuturkan pengucapan selamat natal kepada umat Kristen yang merayakannya diperbolehkan. Dasar pandangan yang memperbolehkan, yakni selama dilakukan di ruang muamalah demi kebaikan sosial.

"Sudah jelas, lakum diinukum waliyadin, artinya lakum itu bagi Anda semuanya. Jadi jangan mengikuti keimanan orang yang merayakan natal. Tapi selagi itu di ruangan muamalah untuk kebaikan sosial, bukan di ruangan privasi tauhid, ya itulah dasarnya yang membolehkan mengucapkan natal," kata dia kepada Republika.co.id, Ahad (22/12).

Baca Juga

Marsudi mengakui bahwa dia termasuk yang mengikuti pandangan tersebut. Namun, dia juga mengakui ada pandangan berbeda yang melarang Muslim memberi ucapan selamat kepada pemeluk agama yang merayakan hari raya keagamaannya.

"Yang tidak membolehkan karena menjaga suatu kehati-hatian agar jangan sampai mengikuti kegiatan Natal termasuk mengucapkan Natal. Jadi tinggal pilih mana. Kalau saya termasuk yang boleh," ucapnya.

Dilansir dari laman Kemenag, Menteri Agama Fachrul Razi meminta agar tidak ada aksi sweeping dalam perayaan Natal dan tahun baru. Dia mengatakan solidaritas dan toleransi harus dikedepankan. "Saya kira dari dulu juga tidak ada (sweeping)," kata dia.

Menag Fachrul juga meminta semua pihak untuk bisa saling menghargai, termasuk dalam menyikapi perbedaan pendapat. Dia berharap perayaan natal tahun ini tidak mengalami kendala apa pun.

Sesuai UU Dasar 1945, seluruh rakyat Indonesia punya hak yang sama untuk menjalankan agamanya. "Jadi sudah sama-sama paham. Mudah-mudahan tidak akan ada masalah. Yang lalu-lalu pun tidak pernah ada masalah," tuturnya.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi