Sabtu 21 Dec 2019 17:04 WIB

Natal tak Melulu Soal Polemik Ucapan, Tapi Ada Sisi Positif

Umat Islam bisa mengambil momentum refleksi dari natal.

Rep: Imas Damayanti/ Red: Nashih Nashrullah
Pengamanan Stasiun Jelang Nataru. Petugas gabungan mengikuti apel pengamanan jelang Natal dan Tahun Baru 2020 di Stasiun Tugu, Yogyakarta, Rabu (18/12).
Foto: Republika/ Wihdan
Pengamanan Stasiun Jelang Nataru. Petugas gabungan mengikuti apel pengamanan jelang Natal dan Tahun Baru 2020 di Stasiun Tugu, Yogyakarta, Rabu (18/12).

REPUBLIKA.CO.ID, Momentum Natal bisa saja disikapi secara lebih positif bagi umat Muslim untuk merefleksikan sejarah Nabi Isa AS. Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Hadis El-Bukhari Institute, Abdul Karim Munthe, mengatakan sebagai umat Islam, nama Nabi Isa AS merupakan salah satu dari 25 nabi yang wajib diyakini.

Hadirnya Natal menurut dia dapat dijadikan momentum kebaikan, pelajaran, hingga rasa saling hormat-menghormati sebagai sesama manusia. Apalagi, Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai rahmatan lil-alamin.

Baca Juga

“Ini (Natal) bisa dijadikan refleksi, seberapa jauh kita mengenali nabi kita (Isa AS). Jangan kita hanya sibuk mengurusi boleh tidaknya mengucapkan Natal,” kata dia.  

Lebih lanjut dia menilai sebagai umat Muslim, sudah seharusnya sikap moderasi diterapkan. Sikap moderasi itu salah satunya adalah meliputi tindakan toleransi, termasuk dalam hal menghargai perayaan hari besar agama tertentu.

Menurutnya, konsesus pelaksanaan Misa Natal berdasarkan wilayah menurutnya pun kurang tepat. Sebab, kata dia, setiap umat beragama memiliki hak untuk melakukan ibadahnya di manapun. 

Kendati demikian dia menggarisbawahi, pemerintah harusnya mengatur penggunaan wilayah itu untuk menertibkan manusianya. “Misalnya seperti di Jakarta, tidak boleh melakukan pengajian di jalan-jalan umum karena mengganggu hak-hak pengguna jalan. Nah, itu berarti kan mengatur manusianya, harusnya seperti itu,” kata dia.

Dia menambahkan, perayaan Natal yang hadir sebentar lagi itu harus disikapi dengan sikap saling menghormati. 

Dan negara, menurut dia, harus menjamin keamanan serta kenyamanan beribadah umat agama tersebut sesuai dengan yang diamanatkan Undang Undang. “Terlepas kita (Muslim) percaya atau tidak (Natal), yang penting kita harus menghormati ritual agama orang lain,” kata dia. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement