REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Tanggal 17 Ramadhan dalam kalender Hijriyah menonjol sebagai hari penting yang mengubah keseimbangan strategis bangsa di Lembah Badr.
Dan pada hari itu, halaman kekhalifahan yang adil ditutup dengan syahidnya Imam Ali, sehingga tanggal ini menjadi saksi pergantian hari-hari antara kebanggaan pemberdayaan dan kepahitan kehilangan.
Pertama, Hari Al-Furqan, perubahan keseimbangan strategis
Perang Badar bukan sekadar pertempuran untuk merebut kembali kafilah, melainkan perang besar strategis dalam rangka pembebasan harta sebagai balasan atas penyitaan harta para muhajirin oleh Quraish, yang bertujuan untuk mengguncang ekonomi Makkah dan memutus jalur perdagangan dengan Syam.
Nilai "syura" militer terlihat jelas di Badr; di mana Nabi ﷺ mengubah posisi pasukan berdasarkan saran dari Al-Habbab bin Al-Mundhir untuk menguasai sumur-sumur air an membangun kemah komando atas saran Sa'd bin Mu'adz.
Sementara bantuan gaib turun untuk menenangkan hati, sehingga hari itu berakhir dengan terbunuhnya para pemimpin musuh di jalan Allah SWT.




