Senin 16 Dec 2019 03:45 WIB

Berburu Sanad ke Hadramaut

Banyak pelajar Indonesia belajar ke Hadramaut.

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Hafil
Al Zahra Tour and Travel membuka program berburu sanad keilmuan di Tarim Hadramaut Yaman Selatan. Program ini dijadwalkan Al Zahra selama 12 hari berziarah ke tempat-tempat besejarah di negeri sejuta wali.
Foto: dok. Al Zahra
Al Zahra Tour and Travel membuka program berburu sanad keilmuan di Tarim Hadramaut Yaman Selatan. Program ini dijadwalkan Al Zahra selama 12 hari berziarah ke tempat-tempat besejarah di negeri sejuta wali.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Al Zahra Tour and Travel membuka program berburu sanad keilmuan di Tarim Hadramaut Yaman Selatan. Program ini dijadwalkan Al Zahra selama 12 hari berziarah ke tempat-tempat besejarah di negeri sejuta wali.

"Program berburu sanad keilmuan di negeri sejuta wali sudah kami buka dengan jadwal keberangkatkan bulan Maret tahun 2020," kata Direktur Utama Al-Zahra H Abu Bakar Soleh Al Jufri saat berbincang dengan Republika, Sabtu (14/12).

Baca Juga

Abu Bakar mengatakan, program ini merupakan program ketiga yang sudah dijalankan Al Zahra. Sehingga tim Al Zahra sudah pengalaman mendampingi jamaah yang ingin meningkatkan pengetahunnya tentang Islam di derah sejuta wali itu.

"Alhamdulillah kita setiap tahun minimal keberangkatan itu dua kali ini dan ini tahun ketiga. Alhamdulillah jangan ragukan tim kita, karena kita sudah berpengalaman selama bertahun-tahun jadi kita sudah biasa menangani jamaah mengunjungi Hadramaut," katanya.

Abu Bakar menyampaikan, program berburu sanad untuk tahun 2020 ini dibuka untuk 280 seat dengan dua pilihan rute perjalanan. Pertama bisa menggunakan rute Salalah Oman dan rute kedua melalui Mesir Kairo menuju Sey'un Airport langsung ke Tarim.

"Dari Sey'un Airport ke Tarim bisa ditempuh hanya 30 menit perjalanan," katanya.

Abu Bakar mengatakan, kenapa program berburu sanad keilmuan ini setiap tahunnya selalu dibuka, karena Hadramaut Yaman Selatan sangat kental nilai-nilai keislamannya. Bahkan, Wali Songo merupakan keturunan asli dari Hadramaut, Yaman.

"Jadi yang mana beliau-beliau ini (Walisongo) juga adalah turunan Sayyidina Husain cucunya Nabi Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam," ujarnya.

Abu Bakar menuturkan, nantinya selama 12 hari jamaah akan diajak mengelilingi tempat-tempat bersejarah, di mana tempat-tempat itu memiliki nilai-nilai keislaman yang tinggi. Seperti peninggalan Nabi Hud dan 70 makam sahabat Rasulullah yang mengikuti perang badar.

Dan paling utama adalah berburu sanad kepada pada para guru dan mualim di madrasah atau majelis-majelis taklim. Karena kata Abu Bakar, orang yang mencari ilmu itu perlu sanad dan Tarim Hadramaut Selatan merupakan sumbernya. Sehinga jika orang berilmu itu telah memiliki sanad yang merupakan bagian dari agama tidak akan berbuat sekehendak hati.

"Sampai saat ini para mualim masih membuka majelis-majelis ilmunya. Jadi kita ke Tarim itu untuk berburu sanad yang rantainya sampai kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam," katanya.

Abu Bakar mengatakan, orang pasti bertanya-tanya, bukankah Yaman sedang dilanda perang sodara dan tempatnya sudah porak poranda? Abu Bakar mengatakan hal demikian itu memang benar adanya. Tetapi itu ada di Yaman Utara bukan di Yaman Selatan di mana banyak tempat para nabi dan waliyullah.

"Selam ini sepengalaman kami Yaman Selatan Alhamdulillah aman dan tentram," katanya.

Saat ini yang masih porak-poranda karena perang adalah Yaman Utara. Sementara Tarim Hadramaut Yaman Selatan daerah yang menjadi destinasi wisata sampai saat ini aman. Bahkan Yaman selatan memfasilitasi membangun kembali airport dan pembangunan lain di sana.

"Bahkan izin penerbangan pun Saudi dan Uni Emirat Arab yang mengendalikan istilahnya di sana di Yaman Selatan aman tidak ada apa-apa," katanya.

Abu Bakar menyampaikan, begitu amannya Yaman Selatan, hampir setiap bulan pelajar dari seluruh dunia berangkat ke sana untuk menuntut ilmu. Pelajar dari Malaysia dan Indonesia yang paling banyak datang menuntut ilmu di Tarim Hadramaut.

Namun, kata dia hanya Malaysia yang visa kunjunganya tidak berbayar dan on arrival. Sementara wisatawan Indonesia wajib lapor dan masih harus mengajukan permohonan Embassy Yaman di Jakarta dua kali seminggu.

Padahal, kata Abu Bakar jika melihat sejarahnya Indonesia lebih dulu datang ke Yaman daripada Malaysia. Untuk itu sudah saputnya Indonesia mendapat perlakuan spesial dari Yaman.

"Masalah inilah harus menjadi konsen pemerintah. Bagaimana pemerintah kita membuat perjanjian kerjasama agar kita kesana bebas visa," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement