Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Thursday, 5 Rabiul Awwal 1442 / 22 October 2020

Direktur Dompet Dhuafa: Kedermawanan Atasi Resesi Ekonomi

Senin 09 Dec 2019 16:50 WIB

Red: Ani Nursalikah

Direktur Dompet Dhuafa: Kedermawanan Atasi Resesi Ekonomi. Foto ilustrasi lembaga filantropi Dompet Dhuafa meluncurkan platform layanan digital Mumu (Membangun Ummat Menguatkan Ukhuwah), yang memudahkan masyarakat untuk melakukan donasi.

Direktur Dompet Dhuafa: Kedermawanan Atasi Resesi Ekonomi. Foto ilustrasi lembaga filantropi Dompet Dhuafa meluncurkan platform layanan digital Mumu (Membangun Ummat Menguatkan Ukhuwah), yang memudahkan masyarakat untuk melakukan donasi.

Foto: Republika/Rossi Handayani
Indonesia negara paling dermawan di dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa Imam Rulyawan meyakini sifat kedermawanan yang melekat pada bangsa Indonesia mampu mengatasi resesi atau kemerosotan ekonomi yang diprediksi pakar terus berlanjut hingga 2020 di Tanah Air.

"Kami optimistis bangsa Indonesia mampu bangkit dan bertahan di era krisis sekalipun, sebab negara ini memiliki penduduk empat besar dunia dan dikenal dermawan," kata dia dalam diskusi terkait Indonesia Poverty Outlook 2020 di Wisma Antara, Jakarta, Senin (9/12).

Indonesia memiliki kekuatan dari kedermawanan yang begitu kuat. Begitu pula dengan filantropi atau tindakan mencintai sesama manusia serta nilai kemanusiaan yang semakin semarak.

Hal itu tentunya membuat masyarakat Indonesia terus menyumbangkan waktu, uang dan tenaganya untuk menolong orang lain. Bahkan, dalam daftar World Giving Index 2018 hasil publikasi Charities Aid Foundation (CAF) yang berpusat di London menunjukkan Indonesia negara paling dermawan di dunia.

Ia menjelaskan kedermawanan itu dilihat dari tiga variabel. Pertama, terkait kemudahan atau kesenangan berdonasi, senang menjadi relawan, dan senang membantu orang lain.

"Jadi kita justru optimistis resesi ekonomi dapat teratasi. Apalagi bangsa ini mulai bergerak sukuk atau obligasi yang berdasarkan prinsip syariah," katanya.

Tidak hanya itu, bahkan sukuk yang pembiayaannya tersebar di dunia berada di Indonesia dan berbasis syariah. Hal itu sejalan dengan slogan Wakil Presiden Ma'ruf Amin yang mengatakan arus baru ekonomi Indonesia yang berkeadilan.

Terkait hal itu, Dompet Dhuafa serta Indonesia Development and Islamic studies (IDEAS) yang merupakan lembaga wadah pemikir tentang pembangunan nasional dan kebijakan publik berbasis keindonesiaan dan keislaman yang bernaung di bawah Yayasan Dompet Dhuafa berada dalam muatan tersebut serta melakukan kajian.

Termasuk pula mengkaji faktor-faktor yang bisa menumbuhkan potensi masyarakat khususnya dari filantropis agar dapat mandiri dalam menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa. Ia mengatakan hal itu tentunya tidak terlepas dari pijakan-pijakan tahun sebelumnya terkait program pengentasan kemiskinan di Indonesia.

"Jadi pada 2020 kita tetap berkaca pada program-program terdahulu. Namun yang pasti selama masih banyak orang miskin, maka semakin banyak pula orang dan lembaga yang turut berupaya menanggulangi kemiskinan itu," ujarnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA