Kamis 21 Nov 2019 03:00 WIB

Begini Sikap Generasi Salaf Saat Hadapi Ajal Kematian

Generasi salaf selalu siap menghadapi kematian.

Peziarah berdoa di makam keluarganya saat ziarah kubur di TPU Sirnaraga, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Jumat (3/5).
Foto: Abdan Syakura
Peziarah berdoa di makam keluarganya saat ziarah kubur di TPU Sirnaraga, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Jumat (3/5).

REPUBLIKA.CO.ID, Banyak sahabat dan para salaf al-shalih menempuh tangga kemuliaan jelang kematiannya, mengikuti jejak Nabi sang Panutan. Para sufi menyebutnya raja', totalitas pengharapan menyambut ajal karena akan berjumpa dengan Tuhan (liqa' ar-Rabb) di hari akhirat nan abadi.

Banyak orang mengambil hikmah dan kemuliaan dalam melewati titik kritis dalam perjalanan hidupnya, sebagaimana mungkin tak sedikit yang menyia-nyiakannya. Anak cucu Adam, siapa pun dia, memiliki siklus yang digariskan Tuhan: lahir, hidup, dan pada akhirnya mati. 

Baca Juga

Tak akan pernah ada yang hidup kekal. Stefhen Hawking sang fisikawan terbesar di abad ini menjadi lebih religius dan menemukan Tuhan di balik kedahsyatan dan rahasia alam semesta yang dipelajarinya, setelah menapaki masa kritis dalam kehidupannya.

Bilal bin Rabah melakukan iftirah jelang ajalnya tiba. "Aku sungguh bahagia karena tak lama lagi akan berjumpa dengan Rasulullah", begitulah ujar muazin dan sahabat terkasih Nabi itu dengan nada lirih, ketika dalam suasana kritis istrinya bertanya kenapa suaminya itu tampak bahagia menyongsong kematian.  

Iskandar Dzulqarnain, bahkan minta jasadnya diarak dengan kedua tangannya terbuka manakala dia meninggal, untuk mengingatkan kepada rakyatnya bahwa sang kaisar nan digdaya itu pada akhirnya harus berhadapan dengan kematian tanpa membawa perhiasan duniawi apa pun.

Lalu, setiap orang ingin belajar hidup lebih bermakna, sesudah itu mati penuh arti. Bukan hidup yang sia-sia, sekadar jadi jasad yang berjalan. Kematian sebagaimana siklus lahir dan hidup, merupakan sesuatu yang sarat dengan rahasia Tuhan.

Detik ini kita berjumpa dengan orang atau sahabat yang begitu dekat, tapi sesaat kemudian dia dipanggil Tuhan. Beribu sebab lahiriah orang meninggal, tetapi takdir Allah tentang kematian pastilah tiba. 

Tuhan pasti mengambil yang satu itu tanpa bisa ditunda atau diakhirkan. Minta dispensasi sedetik pun untuk beramal saleh tak akan pernah diberikan, kendati dengan rengekan panjang dan memelas di hadapan Tuhan (QS al-Munafiqun [63]: 10-11).

Dari Tuhan segalanya datang, kepada-Nya pula dikembalikan, suka-rela maupun terpaksa. Karenanya, tak akan pernah ada yang menentukan kepastian siklus hidup manusia, kecuali Tuhan sendiri. Sedigdaya Firaun sekalipun, yang mengaku dirinya tuhan (ana rabbu-kum al-'ala), akhirnya harus menempuh kepastian ajal, bahkan secara mengenaskan digulung Laut Merah.

Banyak "orang mati sebelum mati", begitulah kata para sufi dan aulia. Jasad dan sosok tubuhnya sempurna, tapi mati-rasa, mati-pikir, dan mati-nurani. Menjadi manusia-manusia "al-basar", makhluk jasadiah belaka. Tidak sebagai "al-insan", hamba-hamba Tuhan yang mulia dan berperadaban agung. 

Umar bin Abdul Azis, khalifah nan arif di masa keemasan Islam, dikisahkan sering tak tidur malam dan menangis jelang kematiannya, karena tak ingin dirinya dituntut rakyatnya di akhirat kelak atas amanat yang tak tertunaikan.

Padahal khalifah dari Dinasti Umayyah yang satu ini dikenal sebagai pemimpin yang jujur dan amanah, sebagaimana Amirul Mukminin Umar bin Khattab semasa hayatnya. Memang, tak mudah menjalani siklus hidup penuh makna dan kemuliaan sebagaimana para penerus risalah Nabi yang utama itu. 

Tak mudah, bukan berarti tak dapat dilakukan. Kemuliaan dan kesempurnaan hidup adalah mutiara bagi siapa pun yang ingin meraihnya, kendati semua hal di dunia ini selalu terkena hukum nisbi dan tak sepenuhnya ideal. Satu hal yang jelas, jangan biarkan siklus hidup kehilangan makna dan keutamaan. 

 

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement