Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Alwi Shihab Ungkap Alasan Negara Luar ingin Belajar ke RI

Selasa 12 Nov 2019 21:45 WIB

Rep: Binti Sholikah / Red: Nashih Nashrullah

Cendikiawan muslim yang juga mantan Menteri Luar Negeri Indonesia, Alwi Shihab (paling kiri) saat menjadi pembicara dalam acara Seminar dan Bedah Buku Islam dan Kebhinekaan di Gedung Pusdiklat Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Selasa (12/11). Dalam acara tersebut Alwi menekankan pentingnya dialog yang baik sesuai ajaran Alquran dalam menyelesaikan masalah perbedaan di internal umat Islam

Cendikiawan muslim yang juga mantan Menteri Luar Negeri Indonesia, Alwi Shihab (paling kiri) saat menjadi pembicara dalam acara Seminar dan Bedah Buku Islam dan Kebhinekaan di Gedung Pusdiklat Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Selasa (12/11). Dalam acara tersebut Alwi menekankan pentingnya dialog yang baik sesuai ajaran Alquran dalam menyelesaikan masalah perbedaan di internal umat Islam

Foto: Republika/Binti Sholikah
Negara luar ingin belajar kerukunan ke Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO – Cendikiawan Muslim yang juga mantan Menteri Luar Negeri Indonesia, Alwi Shihab, menekankan pentingnya dialog yang baik sesuai ajaran Alquran dalam menyelesaikan masalah perbedaan di internal umat Islam. 

Baca Juga

Hal itu disampaikan dalam acara Seminar dan Bedah Buku Islam dan Kebhinekaan di Gedung Pusdiklat Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Selasa (12/11).  

Dalam seminar tersebut, Alwi Shihab menyampaikan mengenai bagaimana merawat dan menghormati perbedaan. Dia memberikan beberapa contoh bagaimana Islam mengajarkan untuk mengatasi berbeda dianjurkan berdialog dengan baik, bukan berdialog dengan memaki.  

Alumnus Universitas Al Azhar Kairo Mesir tersebut menyatakan, kalau ada perbedaan di internal umat Islam, maka umat Islam dianjurkan untuk berdialog yang baik seperti yang diajarkan Alquran. 

Kemudian, jika ada dua pandangan yang tidak bisa disatukan, maka umat Islam dianjurkan untuk meninggalkan yang tidak bisa dicari titik temu kemudian mencari titik-titik temu atau persamaan di antara perbedaan tersebut. Titik temu tersebut misalnya rukun Islam dan rukun iman.

"Selama orang Islam mempercayai rukun iman da rukun Islam itu adalah titik temu kita, perbedaan-perbedaan kecil lainnya jangan menjadikan kita bertikai dan jangan memaki pihak lain. Karena menurut Alquran jangan kita mencaci maki merendahkan pihak lain karena berbeda. Tetapi ingatlah bahwa mungkin yang kita caci maki dan ciderai itu lebih mulia dari kita," terang Alwi saat ditemui Republika seusai acara seminar. 

Dalam mengatasi perbedaan, Alquran memberikan pandangan agar umat Islam jangan sampai mencederai satu dengan yang lainnya. Jangan sampai ada satu kelompok memaki atau merendahkan kelompok lain karena menganggap kelompoknya lebih baik. Adanya perbedaan kecil-kecil diharapkan jangan sampai menjadikan umat Islam sakit hati dan bermusuhan. 

"Di Indonesia ini beda-beda agama, tapi yang penting bagaimana kita bisa bekerja sama di bidang menuntaskan kemiskinan, memberantas korupsi, mencerdaskan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan," imbuhnya. 

Alwi juga menyinggung mengenai Pancasila dan kebhinekaan. Menurutnya, Pancasila sudah menjadi kesepakatan semua komponen masyarakat hasil suatu ikatan dan kesepakatan pada masa sebelum dibentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sebagai seorang Muslim selain harus percaya kepada Allah SWT, shalat, zakat, puasa dan sebagainya, juga disebutkan di dalam Alquran karakter muslim itu mereka yang menghormati ikatan-ikatannya dan menghormati kesepakatannya.

"Jadi seorang Muslim yang mau melepaskan dari kesepakatan ini dia tidak masuk dalam karakteristik seorang Muslim menurut Alquran. Kita sudah sepakat ya sudah kita rawat kesepakatan ini dan kita jadikan ini bagian dari sejarah gemilang bangsa Indonesia dalam persatuan dan kemaslahatan bangsa ini adalah tetap mempertahankan Pancasila," paparnya.

Dia menambahkan, negara-negara lain datang ke Indonesia mau mempelajari Pancasila karena melihat Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar bisa merawat kebhinekaan dengan penuh harmoni. 

Seperti dari Mesir, Uni Emirat Arab, bahkan dari negara barat. Negara-negara tersebut datang ke Indonesia untuk mempelajari apa yang menjadikan Indonesia Islamnya moderat, Islamnya tidak beringas, dan Islamnya sejuk.

"Ternyata selain pandangan keagamaan tapi juga Pancasila yang menjadikan bangsa oni bersatu secara utuh. Jadi kalau ada rencana kelompok kecil yang mau mengubah Pancasila itu berarti dia bukanlah penyandang ajaran Islam yang sebenarnya. Karena Islam memerintahkan Muslim untuk menjaga kesepakatan dan menghormati ikatan," jelasnya.

N binti sholikah

 

 

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA