Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

Wednesday, 16 Rabiul Awwal 1441 / 13 November 2019

3 Esensi Perubahan dari Hikmah Kelahiran Muhammad SAW

Sabtu 09 Nov 2019 12:00 WIB

Rep: Ali Yusuf/ Red: Nashih Nashrullah

Warga membaca zikir saat kenduri dengan sajian aneka makanan pada perayaan Maulid di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (7/11/2019).

Warga membaca zikir saat kenduri dengan sajian aneka makanan pada perayaan Maulid di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (7/11/2019).

Foto: Antara/Basri Marzuki
Kelahiran Muhammad SAW momentum menuju perubahan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Persatuan Persis (Persis) menggarisbawahi tiga perubahan besar yang harus diperhatikan dalam memaknai kelahiran Nabi Muhammad SAW.  

Baca Juga

Wakil Ketua Umum Persatuan Persis (Persis) Zeze Zainuddin saat berbincang dengan Republika.co.id, Kamis (7/11), mengatakan tiga perubahan besar yang harus menjadi perhatian umat Muslim itu pertama adalah bahwa kelahiran Nabi Muhammad sebagai tanda perubahan zaman, dari zaman jahiliyah ke hidayah Islam. "Dari zaman kegelapan ke zaman cahaya. Dari zaman ketidakberadaban kepada zaman peradaban," katanya. 

Kedua bahwa kelahiran Nabi Muhammad menandai perubahan lokal kepada perubahan global. Di mana dengan datangnya Rasulullah, menandai berakhirnya kenabian dan kerasullan. "Berakhirnya pengiriman para babi dan para Rasul dan turunnya kitab suci," katanya. 

Artinya, Nabi dilahirkan ke alam dunia ini menjadi nabi dan rasul terakhir. Artinya kehadiran Nabi Muhammad menjadi fajar baru yang mampu mempersatukan manusia yang tadinya berkelompok, berseteru menjadi menyatu dalam Islam. "Sehingga umat manusia ini dipersatukan ajaran kenabian, satu kitab suci secara menyeluruh," katanya. 

Zeze mengatakan, Nabi Muhamad merupakan nabi yang diutus Allah untuk seluruh umat manusia. Sementara nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad diutus hanya untuk umatnya saja. "Sabda Nabi SAW, para nabi diutus untuk kaumnya saja dan aku diutus untuk seluruh umat," katanya. 

Dan ketiga bahwa kelahiran Nabi, yang harus menjadi perhatian umat manusia khususnya umat Islam adalah, terkait kepemimpinan. Di mana pada zaman Nabi Muhamad kepemimpinan itu merupakan konsep atau ajaran, bukan lagi pada sosok yang status sosialnya tinggi di masyarakat.  

Jadi, kata Zeze, umat manusia harus bisa mengatur diri sendiri, memimpin diri sendiri tanpa kehadiran nabi dan rasul. Artinya ketika Rasulullah selesai menyampaikan risalahnya, umat manusia telah mandiri untuk menentukan pilihannya. "Inilah salah satu esensi besar daripada makna kelahiran Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir," katanya. 

Zeze berpendapat, sesuai surah Ibrahim ayat 5, bahwa peristiiwa sejarah kelahiran Nabi bukan untuk dirayakan. Akan tapi untuk diambil pelajaran dan peringatan bagi orang orang yang beriman. 

"Dan peringatkanlah mereka dengan peristiwa peristiwa dari Allah . Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda kuasa Allah bagi orang penyabar dan syukur," katanya.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA