Senin 28 Oct 2019 16:37 WIB

Peringati Hari Sumpah Pemuda, UAS: Jaga Masa Muda!

UAS mengajak masyarakat untuk mensyukuri berkah bahasa persatuan, bahasa Indonesia

Ustaz Abdul Somad di masjid ulil albab kampus UII Yogyakarta, Sabtu (12/10)
Foto: dok. ist
Ustaz Abdul Somad di masjid ulil albab kampus UII Yogyakarta, Sabtu (12/10)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tepat 91 tahun lalu, pada 28 Oktober, para pemuda dari berbagai daerah berkumpul untuk menyelenggarakan kongres. Di antara hasil pertemuan bersejarah itu adalah teks Sumpah Pemuda.

Menurut Ustaz Abdul Somad (UAS), para pejuang muda pada 1928 silam itu berhasil membuktikan diri mereka sebagai lokomotif perubahan. Mereka mendorong persatuan di atas berbagai perbedaan suku bangsa, budaya, dan bahasa. Semua itu dilakukan demi cita-cita luhur: kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga

Untuk itu, UAS mengajak para pemuda-pemudi dari generasi sekarang untuk memetik hikmah dari peristiwa Sumpah Pemuda.

“Jaga masa muda! Karena, di antara pertanyaan yang akan ditanyakan malaikat kelak ketika kita sudah meninggal ialah, ‘Masa mudamu, ke mana engkau habiskan?’” ujar mubaligh yang kini berusia 42 tahun itu saat berbincang dengan Republika.co.id, Senin (28/10).

UAS berpesan khususnya kepada generasi muda Muslimin. Mereka hendaknya memanfaatkan masa muda sebagai bekal menjalani kehidupan yang lebih baik di masa depan. Di antara perusak mental anak-anak muda, lanjut dia, adalah peredaran minuman keras, zina, dan riba.

“Hari berganti, musim berubah. Tantangan makin kuat. Anak-anak muda masa kini menghadapi khamar dan zina yang berevolusi menjadi narkoba, prostitusi online, dan sebagainya. Maka, pertahanan iman juga mesti di-upgrade,” kata UAS.

Para pemuda-pemudi Muslimin di Indonesia adalah tunas harapan bangsa. Mereka bertanggung jawab untuk memajukan negeri ini. Oleh karena itu, UAS menegaskan, mereka diharapkan memiliki iman yang tangguh dan rasa cinta terhadap Tanah Air. Selain itu, anak-anak muda hendaknya pantang menyerah dalam meraih pendidikan yang setinggi-tingginya serta selalu menerapkan budi pekerti yang luhur.

Berkah Bahasa Indonesia

Teks Sumpah Pemuda dibacakan dalam Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan selama dua hari, 27-28 Oktober 1928, di Batavia (kini Jakarta). Pada saat itu, berbagai elemen organisasi kepemudaan berkumpul untuk menyatakan sikap bersama dengan tujuan persatuan Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia,” demikian bunyi Sumpah Pemuda 1928.

photo
Warga membentangkan bendera Merah Putih saat memperingati Hari Sumpah Pemuda di kampung nelayan Greges, Surabaya, Jawa Timur, Ahad (27/10/2019).

Menurut UAS, bahasa Indonesia merupakan salah satu anugerah yang Allah berikan untuk bangsa ini. Dengan bahasa itu, penduduk Indonesia yang begitu heterogen dapat berkomunikasi dengan lancar dan semakin memupuk rasa persaudaraan.

UAS mengenang pengalamannya saat melakukan safari dakwah di Bumi Cendrawasih.

Suatu ketika, dia menyaksikan seorang dari Banda Aceh berjumpa dengan sahabatnya yang asli orang Jayapura. Keduanya dapat berinteraksi akrab dengan perantaraan bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Padahal, antara Aceh dan Papua terbentang jarak yang begitu jauh.

“Delapan jam perjalanan pesawat memisahkan mereka. Ratusan ribu pulau terbentang. Mereka dapat disatukan oleh Sumpah Pemuda,” ujar UAS.

“Berbangsa satu, bangsa indonesia. Bertanah air satu, Tanah Air indonesia. Dengan bahasa Indonesia, mereka bisa mengungkapkan isi hati. Ini hanya ada di Indonesia,” sambung dia.

“Marilah kita jaga, kita wariskan semangat Sumpah Pemuda ini. Anak cucu kita akan bangga menjadi orang Indonesia karena mampu mengeksplorasi alam dengan SDM (sumber daya manusia) yang luar biasa,” kata peraih anugerah Tokoh Perubahan Republika 2017 itu menutup perbincangan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement