Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Sunday, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 December 2019

Membangun Masjid di Kampung Malengnge

Sabtu 12 Oct 2019 20:00 WIB

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Agung Sasongko

Shalat berjamaah di mushala. (Ilustrasi)

Shalat berjamaah di mushala. (Ilustrasi)

Foto: Republika
Dahulu belum ada shalat berjamaah di Kampung Malengnge.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Saat pertama kali menginjakkan kaki di Kampung Malengnge pada Juni 2018, Karding tak langsung berdakwah. Dia mulai mengajari anak-anak kampung mengaji. Setiap tiba waktu Shalat Jumat, Ustaz Karding mengendarai sepeda motor dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH) ke masjid terdekat di kampung itu.

Melihat rutinitas Ustaz Karding, warga Malengnge mengungkapkan harapan mereka. "Ustaz bagaimana kalau Shalat Ju mat di kampung ini saja," kata warga Kampung Malengnge seperti ditirukan Ustaz Karding saat berbincang dengan Republika di Kampung Melengnge, belum lama ini.

Karding senang bercampur bingung karena tidak ada tempat shalat berjamaah di kampung itu. Setelah bermusyawarah dengan warga, muncul gagasan untuk mengubah kandang sapi menjadi masjid sementara.

Dia pun berkonsultasi dengan gurunya. Karding menanyakan hukum dan aturan mengubah kandang sapi menjadi masjid darurat. Sang guru mengizinkan sembari memberi catatan kandang itu ha rus dibersihkan terlebih dahulu.

"Warga Kampung Malengnge melaksanakan Shalat Jumat berjamaah di kampung mereka un tuk pertama kalinya," ujar dia.

Shalat pertama itu diikuti oleh sepuluh jamaah. Setelah itu, Karding justru diuji dengan rintangan yang datang silih berganti. Dia didatangi aparat dan pemerintah desa. Mereka mengira Karding mengajarkan aliran sesat karena berdakwah di pelosok dan mengubah kandang sapi jadi tem pat ibadah. Setelah mendapat penjelasan, mereka baru paham jika Ustaz Kar d ing sebagai dai tangguh Hidayatullah sedang menjalani misi dakwah.

Ujian Karding tak berhenti di situ. Dia dianggap gila akibat menyampaikan ide untuk membangun masjid dan pesantren di kampung itu. Ide Karding mendapat cibiran karena dia tak membawa uang. Untuk sekadar makan, ustaz itu bahkan harus berjualan Majalah Hidayatullah ke kota.

"Banyak yang mengatakan saya gila karena saya datang ke kampung ini betul-betul tidak ada uang," ujar dia.

Karding tak putus asa. Dia kerap mendirikan shalat malam dan puasa sunah Senin dan Kamis. Doanya pun berbalas. Pada Mei 2019, pembangunan fondasi masjid di Kampung Malengnge bisa dilakukan atas bantuan BMH.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA