Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Cerita Rasulullah SAW Bermain dengan Hasan dan Husein

Kamis 10 Okt 2019 16:44 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Nashih Nashrullah

Kawasan Raudhah dan koridor di depan Makam Rasulullah SAW kian padat menyusul makin banyaknya jamaah haji yang tiba di Madinah, Selasa (24/7). Para jamaah berebut mengunjungi tempat yang disebut penuh berkah tersebut.

Kawasan Raudhah dan koridor di depan Makam Rasulullah SAW kian padat menyusul makin banyaknya jamaah haji yang tiba di Madinah, Selasa (24/7). Para jamaah berebut mengunjungi tempat yang disebut penuh berkah tersebut.

Foto: Republika/Fitriyan Zamzami
Rasulullah SAW tak canggung bermain dengan anak kecil.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Rasulullah SAW merupakan sosok teladan yang ideal sebagai seorang ayah. Mengutip buku berjudul "Menjadi Ayah yang Sukses" karya Adil Fathi Abdullah, bahwa orang tua seyogianya menjadi teladan baik dalam segi akhlak, intelektualitas, agama maupun hal lainnya yang ingin dia ajarkan kepada anaknya.

Baca Juga

Keteladanan itu bisa diambil dari sosok Nabi Muhammad SAW. Sebagai utusan Allah, Nabi diciptakan Allah sebagai manusia yang memiliki keteladanan yang baik. 

Rasulullah SAW adalah sosok ayah yang penyayang yang memberi kehangatan cinta kasih kepada anak-anaknya. Nabi Muhammad SAW kerap mencium cucunya, Hasan. ketika hal itu disaksikan oleh al-Aqra' bin Haabis at-Tamimy, dia langsung berkomentar, "Aku memiliki sepuluh anak. Tak satupun yang pernah kucium." Rasulullah lantas mengalihkan pandangannya kepada Aqra', lalu berkata, "Orang yang tidak mengasihi tidak dikasihi." (HR Bukhari).

Nabi SAW juga tidak segan untuk menggendong anak dan cucunya. Hal itu seperti dikisahkan Abdullah bin Jafar, "Rasulullah menjemput kami (yakni Jafar dan Hasan atau Husein) ketika pulang. Kemudian beliau menggendong salah satu dari kami di punggung sedang yang lain beliau bopong di dada sampai kami memasuki Madinah." (HR. Muslim).

Mengajak bermain atau bercanda dengan anak-anak tidak akan mengurangi wibawa sebagai orang tua. Bahkan, Rasulullah tidak merasa malu saat dia melakukan hal demikian di depan orang banyak. 

Seperti diceritakan Ya'la bin Murrah, saat mereka pergi bersama Rasulullah untuk menghadiri undangan makan bersama, Rasulullah melihat Hasan sedang bermain di jalan. Beliau lantas mempercepat jalan mendahului rombongan, lalu merentangkan kedua tangannya. Hasan berlarian ke sana kemari. Rasulullah mencandainya lalu merangkulnya. 

Nabi meletakkan satu tangannya di dagunya dan yang lain di ubun-ubun, lalu beliau menciumnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari.

Salah satu bukti kasih sayang Rasulullah saw kepada anak-anak terbukti saat beliau tengah berkhotbah. Seperti diriwayatkan oleh Abdullah bin Buraidah, saat itu Hasan dan Husein memasuki masjid. 

Melihat mereka hampir terjatuh, Rasulullah saw langsung turun dari mimbar dan membopong mereka berdua. Hasan dan Husein kemudian didudukkan di hadapannya. Selanjutnya Nabi membacakan firman Allah, "Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya sebagai cobaan." (QS al-Anfaal: 28)

Tidak hanya itu, Rasulullah juga menyayangi anak-anak dan memiliki rasa khawatir terhadap mereka. Bahkan saat sedang melaksanakan shalat, Nabi  menyingkat shalat dan tidak memanjangkannya ketika dia mendengar anak-anak yang menangis.

Beliau bersabda, "Pada saat mulai shalat, aku ingin memanjangkannya. Namun, ketika mendengar ada anak menangis, aku memendekkan shalatku, karena aku ingat kesedihan ibunya jika anaknya menangis" (HR. Bukhari dan Muslim).

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA