Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Saturday, 17 Rabiul Akhir 1441 / 14 December 2019

Pribadi Tawadhu

Rabu 09 Oct 2019 23:43 WIB

Red: Agung Sasongko

Takwa (ilustrasi).

Takwa (ilustrasi).

Foto: alifmusic.net
Pribadi tawadhu’ tak mudah patah hati bila tak dipuji

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- "Maka janganlah kamu mengata kan dirimu suci. Dialah yang pa ling mengetahui tentang orang yang bertakwa.’‘ (QS Annajm [53]: 32). Di antara karakter positif orang beriman adalah tawadhu’ (rendah hati). Ia tak meng anggap dirinya hebat, dan memandang sebelah mata orang lain. Alquran mencela orang yang menganggap diri paling benar dan suci, orang lain salah dan berdosa. Tawadhu’ adalah amalan hati yang tecermin dalam perilaku sehari-hari.

Pribadi tawadhu’ tak mudah patah hati bila tak dipuji dan pandai memelihara hatinya. Keberhasilan kerja baginya tidak dinilai dari pujian yang diterima dan penghargaan yang diraih. Ia akan terus bekerja, berkarya, dan tidak berhenti dengan atau tanpa hal itu. Dia juga tidak menganggap dirinya paling berperan dalam suatu amal usaha. Bila ada orang memujinya paling berjasa dalam sebuah tim, ia menyebut itu semata-mata berkat kerja sama. Ia tak ingin menyakiti perasaan mitra kerjanya.

Sebaliknya, pribadi yang tinggi hati, lalu meremehkan orang lain berarti telah menyalahi hadis Rasul SAW, ‘’Sesunggu hnya Allah mewahyukan padaku agar kalian saling menghargai sehingga seseorang tidak meremehkan dan menganiaya orang lain.’‘ (HR Muslim). Jarang memberikan apresiasi terhadap karya orang lain, berarti sudah menjadi ta kabur. Demikian pula keengganan mengucapkan terima kasih. Ini berbeda dengan sifat tawadhu’ yang mudah memberikan apresiasi dan tak segan berterima kasih.

Menjadi pribadi yang tawadhu’ tidak akan menjadikan seseorang hina di mata orang lain. Allah SWT sendiri yang akan mengangkat derajatnya. Bisa saja saat ini kerja kerasnya tidak dihargai, lalu namanya tak banyak disebut orang. Tapi, suatu saat bisa jadi namanya akan harum dan kebaikannya banyak dikenang. ‘’Tidaklah seorang itu bersikap tawadhu’ kepada Allah, melainkan Allah akan meng angkat derajatnya.’‘ (HR Muslim).

Pribadi tawadhu’ memahami keutamaan ini, sehingga tidak perlu berkeras ingin dipuja dan dipuji. Ia meyakini mereka memiliki ke- tawadhu’-an. Allah SWT sendiri yang mengangkat nama mereka. Apresiasi atau pujian dari orang lain bukanlah harga mati sebuah keberhasilan. Kerja dan karier tidak akan tamat tanpa keduanya. Pribadi yang tawadhu’ tak akan jera mengukir prestasi, merajut mimpi, dan memancangkan asa demi kemuliaan hakiki, mendapat ridha Allah SWT.

sumber : Hikmah Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA