Kamis 03 Oct 2019 18:55 WIB

Di Ambon, Dai Tangguh BMH Dakwah dari Tenda ke Tenda

Program ini sederhana namun penting bagi para korban gempa bumi Ambon.

Dai Tangguh BMH berdakwah dari tenda ke tenda  yang dihuni para pengungsi  korban gempa Ambon.
Foto: Dok BMH
Dai Tangguh BMH berdakwah dari tenda ke tenda yang dihuni para pengungsi korban gempa Ambon.

REPUBLIKA.CO.ID, AMBON -- Musibah gempa bumi dengan kekuatan 6,8 SR di Ambon pada 26 September 2019 tidak saja menyebabkkan bangunan runtuh. Sebagian warga yang menjadi korban juga mengalami guncangan jiwa yang cukup berat.

"Hal ini mendorong Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH)  menggandeng Dai Tangguh dalam membantu para korban gempa bumi di Ambon ini. Masyarakat terlihat sangat terpukul dengan kondisi yang ada. Maka sejak 27 September 2019 sampai sekarang Dai Tangguh BMH, Ustaz Naharuddin, SKomI  terus membersamai masyarakat dari tenda ke tenda," terang Kepala BMH Perwakilin Maluku, Ali Ikrom Tihurua, melalui rilis, Kamis  (3/10).

Ia menambahkan, setiap hari Ustaz Naharuddin bergantian memberikan tausiyah di tenda-tenda pengungsi. Antara lain, tenda pengungsian warga Dusun Walare dan pengungsian Desa Negeri Liang. "Kedua desa itu ada di Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah," imbuh Ikrom.

Dai Tangguh BMH Ustaz Naharuddin mengatakan,  program ini sederhana namun penting. "Kenapa  orang kena musibah diberi tausiyah?  Supaya masyarakat ini tidak hanya mendapatkan bantuan lahir saja, tetapi juga batin. Kita berharap, semoga dengan musibah ini,  masyarakat tetap kuat dan menjadikan mereka tambah dekat kepada Allah SWT," ujarnya.

Warga yang mendengarkan tausiyah Dai Tangguh BMH mengaku sangat bersyukur dengan adanya program BMH yang tidak saja berupa  bantuan materil, tetapi juga spiritual.

"Jujur, ini sangat baik bagi kami. Kami jadi makin menyadari bahwa Allah Mahakuasa. Kita harus sabar dan kuat. Jadi, kami bisa lepas dari bingung dan gelisah, walaupun tentunya kami  tetap ingin kehidupan kami segera lebih baik. Ini bantuan luar biasa. Ada bahan makanan, ada juga pengajian," ujar Leli Rehalat (34 tahun), seorang warga pengungsi.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement