Rabu, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Rabu, 19 Muharram 1441 / 18 September 2019

Kelembutan

Sabtu 07 Sep 2019 04:04 WIB

Red: Agung Sasongko

Dakwah

Dakwah

Foto: Dok. Republika
Mari kita hadapi provokasi dengan kelembutan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — 'Allah tidak menyukai pria yang bersuara keras (tinggi). Sebaliknya, Allah suka kepada yang bersuara lembut.'' (HR Al-Baihaqi).

Banyak orang berpikir kebenaran harus diperjuangkan atau minimal dipertahankan, bahkan disebarkan dengan keras. Mereka yakin dengan kekerasan, kebenaran yang mereka anut dapat dipertahankan kemurniannya, termasuk di dalamnya mendakwahkan ajaran yang mulia, Islam. 

Tak jarang para dai atau khatib menggunakan bahasa yang "keras" saat berkhutbah. Dakwah yang seharusnya disampaikan dengan hikmah dan mau'idlah hasanah sehingga mampu menimbulkan kesejukan dan semangat dalam beragama justru menjadi sesuatu yang menakutkan.

Tinta emas sejarah mengukir bagaimana kala terjadi perundingan antara umat Islam dengan kaum Quraisy dalam Perjanjian Hudaibiyah, Rasulullah SAW dengan penuh kelembutan mengikhlaskan penghapusan kata-kata 'Rasulullah SAW' di belakang nama beliau. 

Kaum Quraisy keberatan dengan kata-kata tersebut. Rasulullah SAW juga menyetujui penggantian lafal pembuka perjanjian yang semula berbunyi ''Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang'' menjadi ''Dengan nama-Mu ya Allah.'' 

Memang, setelah Perjanjian Hudaibiyah ditandatangani, terjadi 'pemberontakan' dari para sahabat termasuk Umar RA yang memang terkenal keras. Tapi lihatlah, Rasulullah dengan penuh kelembutan pula meyakinkan para sahabat bahwa Perjanjian Hudaibiyah adalah langkah awal menuju kemenangan Islam beberapa tahun kemudian.

Pelecehan atas diri Rasulullah Muhammad SAW berupa karikatur di Denmark tempo hari cukuplah menjadi pelajaran bagi kita untuk membela Rasulullah dengan cara yang cerdas. Bahwa sesungguhnya orang-orang yang dengki terhadap keagungan Rasulullah, agama yang dibawanya, dan umatnya berusaha sekuat tenaga memprovokasi umat Islam agar tampak sikap keras.

Dengan begitu, gampang bagi mereka untuk memberi cap negatif kepada kita sebagai 'teroris' sehingga Islam dan umatnya kian termarjinalkan dalam percaturan politik dunia. 

Mari kita hadapi provokasi dengan kelembutan, dengan menunjukkan kesejukan Islam, agama agung yang tak ada yang mampu menandinginya ini dengan penuh hikmah dan dengan cara yang baik. 

''Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.'' (QS An-Nahl [16]: 125). 

 

sumber : Hikmah Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA