Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Bahaya Prasangka

Senin 15 Jul 2019 21:14 WIB

Red: Hasanul Rizqa

Ghibah (ilustrasi)

Ghibah (ilustrasi)

Foto: io9.com
Prasangka membawa pada petaka

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Tontowi Jauhari

Baca Juga

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban'' (al-Isra: 36).

Dalam memahami ayat di atas, Ibnu Abbas berkata, ''Janganlah memberikan kesaksian, kecuali apa yang telah engkau lihat dengan kedua mata kepalamu, dan apa yang kamu mendengar dengan telingamu, dan apa yang diketahui oleh hati dengan penuh kesadaran.''

Berkata pula Qatadah, ''Jangan kamu berkata, 'Saya telah mendengar' padahal kamu belum mendengar, dan jangan berkata, 'Saya telah melihat' padahal kamu belum melihat, dan jangan kamu berkata, 'Saya telah mengetahui' padahal kamu belum mengetahui.''

Setiap kesaksian hendaknya didasarkan pada kebenaran (fakta), bukan kesaksian palsu yang sedikit pun tidak didasarkan atas kebenaran (dalam bentuk isu). Kesaksian palsu atau isu akan merugikan diri sendiri dan orang lain, terlebih bila kesaksian tersebut bertujuan untuk mendiskreditkan lawan baik perseorangan maupun golongan.

Kesaksian palsu digambarkan oleh Rasulullah yang diriwayatkan dari Anas ra, ''Di malam Isra' aku melewati suatu kaum yang mencakar wajah mereka dengan kuku-kuku mereka, maka aku berkata, 'Hai Jibril siapa mereka?'

Jibril menjawab, 'Mereka ini adalah orang-orang yang menggunjingkan orang lain dan menjelekkan kehormatan mereka'.''

Ilustrasi di atas merupakan teguran sekaligus sarana koreksi bagi diri kita agar terhindar dari perangkap prasangka (kesaksian palsu), yang akan menjerumuskan diri sendiri. Firman Allah dalam surat al-Hujarat ayat 12; memberi teguran agar menjauhi prasangka, karena prasangka itu dosa.

Demikian juga Rasulullah dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi, memerintahkan untuk menjauhi prasangka, karena prasangka adalah ucapan yang paling dusta.

Para aktivis prasangka, di dunia akan tampak senang--meskipun hati nurani mungkin menolak--apalagi prasangka yang disampaikan mengandung nilai komersial, tentu prasangka akan terus diproduksi sebagai konsumen publik.

Mereka tidak merasa dibebani pertanggungjawaban, tetapi ingat! ''Pada suatu hari [ketika] lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dulu mereka kerjakan'' (an-Nur: 24).

Sesuai dengan tuntunan Rasulullah hendaknya kita selalu berdoa.

Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Syakal bin Humaid, ia berkata, ''Saya mengunjungi Nabi saw, kemudian saya berkata, 'Hai Nabi, ajarilah aku doa minta perlindungan yang akan aku baca untuk memohon perlindungan kepada Allah', maka Nabi memegang tanganku seraya bersabda, 'Katakanlah: Aku berlindung kepada-Mu (Ya Allah) dari kejahatan telingaku dan kejahatan mataku dan dari kejahatan hatiku dan kejahatan maniku (zina)'.''

sumber : Pusat Data Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA