Senin 15 Jul 2019 20:47 WIB

Nutrisi dan Kurban

Kurban dapat menjadi momen menambah nutrisi

Sapi limosin menjadi kurban di Hari Raya Idul Adha (ilustrasi).
Foto: Republika/Halimatus Sa'diyah
Sapi limosin menjadi kurban di Hari Raya Idul Adha (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Andi Rahman

Lima belas abad silam, Islam telah menyiratkan kebutuhan manusia akan karbohidrat, lemak, dan protein sebagai nutrisi dasar bagi kesehatan. Kebutuhan karbohidrat diungkapkan lewat zakat fitrah, sedangkan kebutuhan lemak dan protein diterangkan lewat berkurban.

Baca Juga

Lemak dan protein banyak terdapat dalam daging. Seorang fakir miskin yang kesehariannya tidak mengkonsumsi daging, tentu kesehatan dan pertumbuhannya tidak sempurna. Hal ini disebabkan salah satu nutrisi pokoknya, yaitu lemak, tidak terpenuhi. Bahkan, beberapa vitamin yang dikonsumsi, tidak dapat dimanfaatkan karena ketiadaan lemak di tubuhnya.

Kurban adalah penyembelihan hewan ternak, yakni unta, sapi/kerbau, dan kambing), pada hari Idul Adha dan tiga hari Tasyriq (tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah) dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pengertian ini setidaknya mengandung tiga hal. Pertama, tidak semua hewan dapat disembelih untuk ibadah kurban. Hewan yang sah hanyalah unta, sapi/kerbau, dan kambing.

Para ulama menerangkan, seekor kambing menjadi kurban bagi satu orang. Rasulullah SAW bersabda, ''Alangkah baiknya menjadikan seekor kambing sebagai sembelihan kurban.'' (HR. Ahmad).

Sementara unta dan sapi/kerbau menjadi kurban bagi tujuh orang. ''Pada tahun terjadinya perjanjian Hudaibiyah, kami menyembelih seekor unta bagi tujuh orang, dan seekor sapi (juga) untuk tujuh orang.'' (HR. Muslim). Kedua, waktu penyembelihan dilaksanakan usai shalat Idul Adha hingga terbenamnya matahari di hari Tasyrik terakhir (tanggal 13 Dzulhijjah).

Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, ''Sesungguhnya kegiatan pertama yang kita lakukan pada hari ini (10 Dzulhijjah) adalah shalat (shalat Idul Adha). Setelah itu kita pulang dan menyembelih kurban. Siapa yang berbuat seperti ini, maka ia telah menepati sunnah kita, dan siapa saja yang menyembelih sebelumnya (sebelum shalat Id), maka sembelihannya itu hanyalah daging yang diperuntukkan bagi keluarganya, sedang ia tidak bernilai ibadah sama sekali.'' (HR. Muttafaq alaih).

Ketiga, orientasi penyembelihan hewan kurban ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Penyembelihan yang dilakukan karena riya' atau ingin mendapat pujian, walau secara lahiriyah ia telah menyembelih, tetapi pada hakikatnya ia tidak melakukannya.

Meski daging kurban sampai kepada fakir miskin dan darahnya telah tumpah ke tanah, tak ada manfaat sedikit pun yang diterima Allah SWT, kecuali ketakwaan dan keikhlasan dari orang yang melaksanakannya. Inilah substansi makna kurban yang sebenarnya.

sumber : Pusat Data Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement