Ahad 14 Jul 2019 20:40 WIB

Rabi’ah Al Adawiyah, Mantan Budak yang Taat kepada Allah

Sejarah Islam mencatat Rabi’ah sebagai salah satu ulama sufi paling disegani.

Oase (ilustrasi)
Foto: Wordpress.com
Oase (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kecintaannya pada Allah SWT patut kita teladani, sebab tak hanya diucapkan lewat lisan, tapi juga ditunjukkan dengan per buatan. Ulama sufi bernama Rabi'ah Al Adawiyah itu senantiasa beribadah sekaligus tunduk kepada Allah.

Rabi'ah dilahirkan pada 713 Masehi. Ia merupakan putri keempat dari keluarga miskin di Basrah, Irak. Dia tumbuh sebatang kara karena kedua orangtuanya meninggal saat ia masih kecil. Seluruh saudaranya meninggal akibat wabah kelaparan yang melanda Basrah.

Rabi'ah kemudian menjadi budak. Ia ditangkap dan dijual kepada seorang saudagar pemilik toko besar di Baghdad. Sampai akhirnya, pada suatu malam majikan Rabi'ah terbangun dari tidurnya. Ketika melewati kamar tidur Rabi'ah, sang majikan terkejut melihat Rabi'ah merintih serta menangis.

Sang majikan penasaran apa yang terjadi dengan budaknya, maka ia lalu mengintip Rabi'ah le wat jendela kecil. Majikan Rabi'ah tersebut semakin terkejut, sebab dirinya melihat sebuah lentera berayun-ayun di kepala Rabi'ah tanpa seutas tali pun yang menahannya. Setelah meli hat kejadian itu, si majikan langsung membebaskan Rabi'ah tan pa keraguan.

Rabi'ah memang memiliki banyak karomah atau sesuatu yang berbeda dari sewajarnya. Karomah biasanya Allah berikan kepada hambanya yang sangat taat sehingga sering kali disebut sebagai wali Allah.

Kisah karomah Rabi'ah lain nya, yakni saat Rabi'ah tengah berjalan-jalan di pegunungan, ada banyak binatang buas yang mendekati. Hanya saja, tak satu pun hewan tersebut menyerang nya, sebaliknya semua binatang itu jinak di hadapan sang ulama. Pada suatu hari, Rabi'ah melakukan perjalanan haji ke Makkah naik unta. Di tengah jalan, unta yang dinaikinya mati. Ia lalu berdoa kepada Allah dan tak lama kemudian untanya hidup kembali.

Salah satu kisah terkenal tentang karomahnya, yaitu ketika Hasan Al Basri mengajaknya melakukan shalat di atas air. Rabi'ah pun menjawab ajakan tersebut dengan sedikit ketus karena menurut Rabi'ah tak perlu menunjukkan kemampuan spiritual hanya untuk mencari popularitas.

Rabi'ah lalu melemparkan sajadahnya seraya terbang di atas nya. Ia mengajak Hasan untuk naik ke atas sajadah tersebut bersamanya, sehingga lebih banyak orang tahu dibandingkan sekadar shalat di atas air.

Melihat itu, Hasan merasa malu dan terdiam. Ia paham kalau cara tersebut merupakan sindiran untuknya. Sejarah Islam mencatat Rabi'ah sebagai salah satu ulama sufi paling disegani. Bahkan, pemikiran serta ibadah spiritualnya masih banyak dikaji hingga sekarang.

Pemikiran Rabi'ah yang pa ling terkenal adalah mengenai kon sep cinta kepada Allah. Bagi nya, menyembah Allah harus atas dasar cinta sehingga bukan kare na rasa takut maupun berharap masuk surga.

"Ya Allah, kalau aku menyembah-Mu karena menghindar dari neraka-Mu, campakkan saja aku ke neraka. Kalau aku menyembah-Mu karena berharap surga, tutup pintu-Mu rapat-rapat, tapi kalau aku menyembah karena mengharap rahmat-Mu, jangan pisahkan aku dari rahmat-Mu," tutur Rabi'ah.

sumber : Dialog Jumat Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement