Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Konsepsi Tasawuf dalam Kitab Kiai Shobari Kuningan

Jumat 12 Jul 2019 17:13 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Nashih Nashrullah

Kitab karangan Kiai Shobari

Kitab karangan Kiai Shobari

Foto: Andrian Saputra/ Republika
Konsep tasawuf menurut Kiai Shobari menekankan pembersihan diri.

REPUBLIKA.CO.ID,  KUNINGAN – Kiai Ahmad Shobari dikenal juga sebagai sosok intelektual yang produktif. Salah satunya yang masih terdapat dan bertahan hingga kini di Pesantren Ciwedus, Kuningan, Jawa Barat adalah kita Thariqah Syattariyyah.

Baca Juga

Menurut Kiai Ahmad Musthofa Agil, kitab tasawuf yang ditulis Kiai Shobari bersanad pada Syekh Muhyi Pamijahan dan Syekh Abdul Rouf Singkil Aceh. 

Dalam kitab tersebut dijelaskan tentang cara untuk mensucikan jiwa dan mendekatkan diri pada Allah SWT serta memiliki keikhlasan dalam berjuang. 

Dalam kitab itu, Kiai Shobari juga mengajarkan agar untuk mencapai maqam waliyullah harus membuang rasa ingin dihormati oleh manusia dan berfokus untuk menggapai ridha Allah. 

Dalam kitabnya itu, Kiai Shobari menuliskan berbagai zikir untuk menempuh tasawuf. Karenanya Kiai Shobari pun menjelaskan tiga tingkatan manusia dalam mempelajari tasawuf yakni tingkat mubtadi yang harus melantunkan zikir secara jelas, tingkatan mutawasith yakni menempuh jalan tasawuf dengan melantunkan zikir secara khafi, dan tingkatan ‘ulya yakni manusia yang sudah merasakan nikmatnya beribadah. “Beliau juga menjelaskan tentang khalwat menjauhkan diri dari hiruk-pikuk dunia untuk mencapai tingkatan waliyullah, qanaah, dan wara,” katanya.

Menurut Kiai Ahmad Musthofa, rencananya pesantren akan menulis ulang kitab tersebut serta menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Menurutnya kitab tesebut merupakan bukti bahwa Kiai Shobari merupakan ulama yang produktif menulis. “Nanti akan dikaji dengan guru kami Raden Bambang Iriyanyo dari Tarekat Syattariyah, dan Syekh Rokhimudin an- Nawawi al-Bantani,” katanya. 

Sebenarnya kitab karangan Kiai Shobari cukup banyak. Hanya saja banyak yang hangus dibakar. Kejadian itu terjadi sekitar 1935 dan 1984 pada masa penjajahan Belanda dan ketika bergejolaknya gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Penyebabnya karena Pesantren Ciwedus kerap berani melakukan perlawanan-perlawanan terhadap berbagai penindasan terutama saat masa penjajahan.  

Penyerangan yang dilakukan baik pada masa penjajahan Belanda maupun saat begejolaknya gerakan PKI terhadap Pesantren Ciwedus tak hanya membuat bangunan pesantren yang sudah beridiri sejak 1800 M itu porak-poranda. Tapi banyak juga kitab milik Kiai Ahmad Shobari hilang. Beruntungnya keturunan Kiai Shobari berhasil menemukan satu kitab karya Kiai Shobari. 

Kitab tersebut berisi tentang keilmuan tasawuf. Kitab itu ditemukan dari keturunan santri Kiai Shabari. Kitab tasawuf itupun masih dalam kondisi baik dan disimpan di kediaman Kiai Ahmad Musthofa Agil. 

“Kitabnya banyak tersebar karena diselamatkan santri-santrinya, ini saya menemukan kitab tasawufnya, Thariqah Syattariyyah, dari santrinya di Bandung,” kata Kiai Ahmad Muthofa yang merupakan cicit dari Kiai Shobari saat berbincang dengan Republika,co.id pada Jumat (11/7).  Kiai Shobari juga menulis Syarh Fath al-Mu’in dan syarah Tafsir al-Jalalain. Kitab tersebut dibuat setelah beliau mengaji ke Syekh Kholil Bangkalan.  

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA