Saturday, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Saturday, 22 Muharram 1441 / 21 September 2019

Eksistensi Islam di Budapest

Kamis 04 Jul 2019 07:47 WIB

Red: Agung Sasongko

Pemandangan Kota Budapest dengan Sungai Danube-nya di malam hari.

Pemandangan Kota Budapest dengan Sungai Danube-nya di malam hari.

Foto: Dvi Shifa/dok pribadi
Meski minoritas, Umat Islam di Budapest Jaga Kekompakan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menjadi kaum minoritas bukan berarti tidak bisa menjadi masyarakat yang kuat. Justru karena jumlahnya yang sedikit, membuat anggotanya menjadi lebih akrab.

Keakraban ini membuat langkah-langkah bagaimana agar komunitas Muslim di tempat tersebut bisa bertahan. 

Ini yang terjadi pada umat Muslim di Hungaria, sebuah negara yang berada di Eropa Tengah. Dalam bahasa setempat, disebut dengan Magyarország, atau yang berarti daerah Magyar. Kehidupan Muslim di ibu kota negara tersebut, Budapest, mencerminkan sebuah ikatan komunitas yang unik. Mereka adalah umat Muslim, tapi hampir tak tampak eksistensinya.

Sebuah artikel menarik yang ditulis oleh Rasidk dipampang dalam laman cafebabel.co.uk, mrmerinci kehidupan umat Muslim di sana. Menurutnya, sangat sulit menemukan sebuah masjid di Budapest.

Sebuah hal yang unik yang jarang terjadi di wilayah lain adalah adanya gereja Islam. Ya, di negara ini tidak ada data untuk memerinci tempat ibadah bagi umat Muslim. Untuk itu, masjid yang merupakan tempat ibadah umat Muslim dimasukkan dalam data, dianggap sebagai gereja.

Ada dua masjid utama yang ada di Hungaria. Jangan berharap pada bentuk yang megah nan mewah. Hanya ada bendera nasional Hungaria dan Uni Eropa di sana dan beberapa perempuan Muslim yang mengenakan jilbab, yang menjadi penanda bahwa bangunan yang bentuknya sama dengan sekelilingnya tersebut adalah sebuah masjid.

Di dalamnya, terdapat ruang utama sebagai tempat untuk menunaikan shalat. Luasnya cukup untuk menampung beberapa puluh jamaah. Tempatnya rapi dilengkapi dengan karpet, juga terang benderang karena banyak cahaya yang masuk ke dalamnya saat siang hari. Ruang khusus untuk perempuan dipisahkan dari ruangan ini, dengan luasan yang lebih kecil dan letaknya berada di seberang lorong.

Masjid ini dikelola oleh organisasi Muslim di Hungaria, yang didirikan pada 2000. Nama resmi masjid ini adalah "Gereja Lingkungan Paradoks Islam (MME)". Hukum yang berlaku sejak 1900 di negara ini, adalah tempat ibadah bagi agama apa pun, akan disebut dengan gereja. 

Ada dua gereja Islam yang terdaftar di negara ini. Namun, sebenarnya total tempat ibadah yang bisa digunakan untuk umat Muslim ada empat unit di seluruh wilayah Hungaria.

Pemimpin organisasi Muslim Hungaria, Szultan Sulok, berkantor di masjid ini. Ruangannya penuh dengan buku, catatan, dan kertas yang tak tersusun rapi. "Kami baru saja pindah ke sini karena umat Muslim semakin meningkat," ujarnya.

Sulok memperkirakan ada sekitar 3.200 Muslim yang tinggal di Budapest. Hungaria sendiri merupakan negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Katolik Roma. Menilik dari sejarahnya, sebenarnya ada jejak Islam di sana, ketika Hungaria masuk dalam wilayah kekuasaan kekaisaran Ottoman yang berkuasa pada sekitar 1522. Sekitar 150 tahun setelah itu, wilayah ini berhasil direbut oleh kerajaan Austria. Era keemasan Islam di wilayah ini pun telah berakhir.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA