Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Wednesday, 8 Sya'ban 1441 / 01 April 2020

Solidaritas Sesama Muslim

Selasa 18 Jun 2019 13:41 WIB

Red: Hasanul Rizqa

(Ilustrasi) Di bawah terik matahari, ratusan ribu peserta Aksi Bela Palestina melaksanakan shalat Jumat berjamaah di area Monas, Jakarta Pusat, Jumat (11/5).

(Ilustrasi) Di bawah terik matahari, ratusan ribu peserta Aksi Bela Palestina melaksanakan shalat Jumat berjamaah di area Monas, Jakarta Pusat, Jumat (11/5).

Foto: Republika/Ali Mansur
Iman dan Islam telah membuat solidaritas kaum Muslimin dalam arti sesungguhnya.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Al Khaththath     

Baca Juga

Rasulullah SAW bersabda, "Orang Islam itu saudara orang Islam. Ia tidak menganiayanya dan tidak pula membiarkannya teraniaya. Siapa yang menolong keperluan saudaranya, Allah akan menolong keperluannya pula. Siapa yang menghilangkan kesusahan orang Islam, Allah akan menghilangkan kesusahannya di hari kiamat. Siapa yang menutup rahasia orang Islam, Allah akan menutup rahasianya di hari kiamat nanti" (HR Bukhari dari Abdullah bin Umar)

Persaudaraan Islam adalah persaudaraan lahir batin, persaudaraan sejati. Persaudaraan yang didasari oleh iman. Allah SWT memastikan hanya orang-orang mukmin yang bersaudara (QS Al-Hujurat: 10). Iman kepada Islam itulah yang membuat kaum Aus dan Khazraj yang bermusuhan ratusan tahun itu menjadi bersaudara (QS Ali Imran: 103). Mereka menjadi satu umat yang solid dan kuat. Mereka siap menolong Rasul dan risalahnya, kaum Anshar.

Iman dan Islam telah membuat kaum Muslimin bersaudara dalam arti sesungguhnya. Bukan sekadar retorika, tetapi persaudaraan nyata, sebagaimana yang diamanatkan dalam hadis tersebut di atas. Ketika kaum Muhajirin baru berhijrah dari Makkah ke Madinah dan memulai hidup baru, dari nol kembali, Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum muslimin tiap dua.

Kaum Anshar yang dipersaudarakan dengan saudara barunya dari Makkah itu secara ikhlas menolong saudaranya. Mereka ditunjukkan kepada tempat pekerjaannya masing-masing. Mereka menolong para pendatang dan berserikat dalam mendapatkan rezeki.

Tatkala Nabi dan pasukannya mendapatkan rampasan harta dari Yahudi Bani Nadir, para sahabat Anshar mempertanyakan kebijakan hanya membagi harta itu kepada seluruh kaum Muhajirin, tidak kepada kaum Anshar kecuali hanya kepada dua orang fakir di antara mereka, yaitu Abu Dujanah dan Sahal bin Hunaif.

Nabi menjawab, "Jika kalian mau, bagikan saja rumah-rumah dan harta kalian kepada kaum Muhajirin, lalu kalian bisa ambil bagian dalam harta rampasan ini atau kalian tidak usah membagi harta dan rumah kalian, dan kami tidak membagi harta rampasan ini kepada kalian."

Orang-orang Anshar itu berkata, "Justru kami ingin membagi rumah dan harta kami untuk saudara-saudara kami dan kami lebih mengutamakan mereka untuk mendapatkan harta rampasan itu."

Pantaslah Allah mengabadikan sikap mereka dalam firman-Nya, "Dan mereka mengutamakan [orang-orag Muhajirin] atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka sangat memerlukan" (QS Al-Hasyr: 9).

Sungguh hari ini kaum muslimin di Irak sedang mendapatkan ancaman luar biasa dari 250.000 pasukan kaum kafir AS yang arogan, maka solidaritas ala kaum Anshar itulah yang diperlukan. Kita tidak boleh membiarkan kaum Muslim itu dianiaya.

sumber : Pusat Data Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA