Jumat 05 Apr 2019 23:25 WIB

Salah Satu Cabang Iman: Menyingkirkan Duri di Jalan

Ada pesan yang tersirat dari menyingkirkan duri di jalan termasuk cabang iman.

Muslim tengah bermunajat kepada Sang Khaliq Allah SWT
Foto: AP
Muslim tengah bermunajat kepada Sang Khaliq Allah SWT

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Moh Yani Zamzam

Nabi Muhammad SAW bersabda, iman terdiri atas 70 bagian. Yang tertinggi adalah laa ilaaha illa Allah. Yang terendah adalah menyingkirkan duri di jalan.

Baca Juga

Hadis itu maknanya mencakup hablu min Allah (hubungan terhadap Rabb) dan hablu min al-nas (hubungan ke sesama manusia). Hubungan keduanya berarti tidak terpisahkan.

Seseorang sulit mempunyai keimanan yang teguh jika pada dirinya hanya ada salah satunya. Konkretnya, Islam tidak menghendaki seseorang tekun beribadah tetapi sering menyakiti teman atau tetangganya. Sebaliknya, Islam juga tidak menginginkan seseorang sangat dermawan kepada sesama tapi tidak shalat dan puasa Ramadhan misalnya.

Dengan begitu, refleksi iman selain pada kerajinan beribadah (ibadah mahdloh) juga pada sikap sosial. Keduanya harus berjalan beriringan. Dalam hadis di atas adalah termasuk menyingkirkan duri di jalan. Menyingkirkan duri bisa juga dimaknai secara simbolik. Maknanya adalah memudahkan orang untuk lewat. Atau, agar orang yang lewat tidak celaka.

Sayangnya, kita umat Islam sering tidak menyadari tentang hal ini. Kita, misalnya, masih sering menyaksikan di berbagai pinggir dan sudut jalan terdapat kios-kios kaki lima yang menjual dagangannya. Akibatnya, jalan yang semula lebar menjadi sempit, yang mengakibatkan kemacetan panjang. Jadi, alih-alih kita melapangkan jalan orang lain, malah kita justru menyulitkan perjalanan mereka.

Contoh-contoh lain tentu masih banyak. Intinya, keimanan kita belum terefleksikan dalam kehidupan nyata. Orang yang imannya benar seharusnya terpancar dalam perilaku sehari-harinya. Misalnya dengan ringan tangan membantu orang lain. Kalaupun belum bisa membantu, maka cukuplah dengan tidak membuat susah orang lain.

Seharusnya orang Islam itu, terutama mereka yang mengaku sebagai pemimpin, menjadi penyingkir-penyingkir duri buat kepentingan orang banyak. Mereka semestinya melapangkan jalan agar rakyat atau masyarakat banyak bisa hidup lebih sejahtera.

Namun, yang terjadi sering sebaliknya. Mereka bukan sebagai penyingkir duri tapi justru menjadi duri itu sendiri. Lihatlah orang-orang yang sering mengaku sebagai pemimpin dan kemudian bertindak ''atas nama rakyat'' yang ujung-ujungnya ternyata hanya untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Itu artinya mereka sedang menjadi duri, bukan menyingkirkan duri. Yang memprihatinkan, duri itu pada zaman sekarang ini banyak sekali. Duri-duri itu bukan hanya dari kalangan penjahat, tapi juga dari mereka yang memakai ''baju'' pejabat negara, wakil rakyat, aparat hukum dan keamanan, dan masih banyak lagi.

Jadi, selama kita masih menjadi duri dan belum menjadi penyingkir duri, negara dan bangsa ini akan terus amburadul. Karena itu, kalau kita ingin menyelesaikan persoalan bangsa ini, marilah setiap diri menjadi orang yang menyingkirkan duri, memudahkan jalan bagi yang lainnya dan bukan sebaliknya. Bukankah Rasulullah SAW sudah mengajarkan bahwa sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain? Wallahu a'lam.

sumber : Pusat Data Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement