Minggu, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 Desember 2019

Minggu, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 Desember 2019

Media Barat, Islamophobia: Getar Adzan Sekujur Bumi

Ahad 24 Mar 2019 11:01 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Koran Selandia baru berduka dengan penembakan di Masjid Al Nor Christchruch.

Koran Selandia baru berduka dengan penembakan di Masjid Al Nor Christchruch.

Foto: google.com
Media barat kebanyakan masih menikmati Islamophobia akut.

Oleh: Uttiek M Panji Astuti, Traveler dan Penulis Buku

Hampir 18 tahun. Tepatnya setelah peristiwa 911 di tahun 2001, Islam dan umat Islam menjadi bulan-bulanan media Barat. Disudutkan. Stereotyping. Generalisasi. Framing. Semua berbungkus Islamophobia.

Bahkan sampai saat ini majalah Charlie Hebdo, Prancis, yang terkenal anti Islam, tetap menunjukkan sikapnya yang antipati terhadap kasus terorisme di New Zealand yang korbannya adalah Muslim. Salah satu kartunnya menggambarkan seorang Muslim membawa Alqur’an di depan dada yang tertembus peluru dengan tulisan ca n'arrete pas les balles atau itu tidak dapat menghentikan peluru.

Jauh sebelumnya, majalah Sayap Kanan Polandia, wSieci atau The Network, Februari lalu menerbitkan edisi kontroversial. Cover majalah tersebut menggambarkan perempuan yang memakai baju Uni Eropa sedang dilecehkan dan akan diperkosa oleh tangan-tangan berbulu halus. Headlinenya sangat tedensius “The Islamic rape of Europe.”

Data European Islamophobia Report (EIR), gejala kebencian dan Islamophobia semakin meningkat dari tahun ke tahun di Eropa.

Laporan 25 negara anggota Uni Eropa yang dipresentasikan di depan parlemen Uni Eropa di Brussels merekam jejak Islamopobia di berbagai negara di Eropa sejak 2015.
Hasilnya sungguh mengerikan. Usai insiden Charlie Hebdo, sentimen anti muslim di Prancis naik 500 persen. Korbannya 75 persen adalah perempuan, karena hijab yang dikenakan.

Pew Research bersama Templeton Global Religious Futures Project pada 2010 mengeluarkan data negara-negara yang berpandangan negatif terhadap Muslim di Eropa. Tertinggi adalah Hungaria. Lalu, Italia, Polandia, dan Yunani.
Sementara negara yang berpandangan positif adalah Inggris, Swedia, Prancis, Jerman, dan Belanda.

Tapi, se-positifnya Inggris pun lebih dari sepertiga orang Inggris percaya bahwa Islam adalah ancaman bagi kehidupan mereka. Data dari Departemen Dalam Negeri Inggris menyebut kejahatan yang dimotivasi kebencian terhadap agama telah meningkat 40 persen. Lebih dari setengahnya atau sekitar 52 persen diarahkan pada orang-orang Islam.

Saya sungguh terkejut membaca hasil riset tersebut. Saat melakukan liputan ke London tahun 2016 lalu, saya merasa kota ini ramah Muslim. Di sepanjang jalan mudah ditemui perempuan berhijab.

Apalagi di pusat perbelanjaan paling masyhur Harrods yang rasanya seperti sedang di Dubai, saking banyaknya perempuan berabaya hitam bahkan berniqab. Saya sempat shalat di tube (comuterlinenya London) yang sedang melaju, juga tidak ada masalah. Tidak ada yang menatap dengan pandangan curiga.

Di desa kecil di pinggiran London, tepatnya di Bicester Village, ada mushola yang disediakan di salah satu pusat perbelanjaan. Dan kita tahu, walikota London adalah seorang Muslim, Shadiq Khan.

Ini berbeda saat saya berada di Madrid, Spanyol, yang kebetulan hanya berselang dua hari setelah peristiwa penembakan di kantor redaksi Charlie Hebdo. Di banyak tempat saya menangkap pandangan, “Enggak usah ke sini deh.”

Tak hanya di Eropa, angka serangan fisik terhadap Muslim di Amerika juga terus melonjak. Menurut data yang dirilis Federal Bureau of Investigation (FBI), serangan fisik terhadap Muslim pada 2015 menyentuh angka 91, mendekati jumlah serangan pada 2001.

Seperti diketahui, tahun 2001 pasca 911 telah terjadi serangan fisik dan kebencian terhadap Muslim sebanyak 93 kasus. Padahal setahun sebelumnya, alias tahun 2000 hanya ada 12 kasus. Serangan fisik itu berupa pemukulan perorangan, atau penyerangan organisasi dan tempat ibadah.

Namun, hal yang sangat berbeda terjadi pada Jumat (22/3) lalu.Kumandang adzan diperdengarkan dari Hagley Park di seberang Masjid Al Noor, New Zealand yang digunakan sebagai lokasi shalat Jumat pertama pasca serangan terorisme. Indahnya suara adzan terdengar sebagai seruan kedamaian.

Tak hanya di New Zealand, bahkan di Trafalgar Square, London, pun adzan diperdengarkan di tengah masa yang berkerumun hari itu (Lihat video di atas).Sesungguhnya, bumi Allah ini tidak pernah berhenti mendengar seruan adzan. Dengan adanya perbedaan waktu, adzan terus berkumandang selama 24 jam.

Sebagai ilustrasi, saat adzan Subuh berkumandang di wilayah timur pulau Indonesia akan tiba di pantai timur Samudra Atlantik setelah sembilan setengah jam.
Sebelum mencapai pantai Atlantik, adzan Isya sudah mulai berkumandang lagi di kepulauan Nusantara dan bergerak lagi ke arah barat. Begitu terus-menerus, tak pernah berhenti sepanjang bumi berputar.

Media-media Barat (tentu tidak semua ya), Jumat (22/3) lalu menurunkan headline dan cover yang menggambarkan indahnya suasana itu. Seperti cover The Press yang menuliskan kata "Salam" beraksara Arab yang berarti peace atau kedamaian.

Lalu, The New Zealand Herald menurunkan headline "A Call to Prayer". Dengan gambar lengkung kubah masjid yang dipenuhi tanda cinta.

Musim semi kembali hadir di belahan bumi Barat. Semoga pemberitaan positif tentang Islam dan umat Islam akan terus berembus seiring terdengarnya kumandang adzan di setiap relung-relung bumi Allah yang luas ini. Biidznillah....

Jakarta, 24/3/2019

Follow me on IG @uttiek.herlambang

Tulisan dan foto-foto ini telah dipublikasikan di www.uttiek.blogspot.com dan akun media sosial @uttiek_mpanjiastuti

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA