REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ibadah haji kerap dipahami sebagai perjalanan fisik menuju Tanah Suci. Namun sebuah kisah klasik yang diriwayatkan dari Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al-Marwazi membuka tabir makna lain dari ibadah haji di sisi Allah SWT.
Dalam sebuah mimpi yang mengguncang hatinya, Abdullah bin Mubarak mendengar bahwa ada 600 ribu jamaah yang menunaikan haji di Makkah, tapi ibadah seorang tukang sepatu di Damaskus yang tidak pernah berangkat ke Tanah Suci, justru diterima sebagai ibadah haji oleh Allah SWT.
Diriwayatkan Fariduddin Attar pada abad ke-12 dalam Tadzkiratul Auliya, ketika Abdullah bin Mubarak tinggal di Kota Makkah setelah menunaikan ibadah haji, ulama yang terkenal sangat zuhud ini bermimpi.
Dalam mimpinya, Abdullah bin Mubarak melihat dua malaikat turun dari langit. Satu di antara dua malaikat tersebut bertanya, "Berapa orang yang datang menunaikan haji pada tahun ini?"
"600 ribu orang,” jawab malaikat yang satunya.
Malaikat yang bertanya, bertanya lagi, “Berapa orang di antara mereka yang diterima ibadah hajinya?”
“Tidak seorang pun,” jawab malaikat yang satunya.
Mendengar banyaknya yang tidak diterima ibadah hajinya, Abdullah bin Mubarak berkisah, tubuhnya gemetar. Abdullah bin Mubarak berseru dalam hati, “Bagaimana mungkin? Mereka datang dari pelosok negeri, menempuh perjalanan jauh dan melewati padang pasir yang luas dengan penuh kesulitan, tetapi semua ibadah hajinya sia-sia?”
Salah seorang malaikat kemudian berkata, “Ada seorang tukang sepatu di Kota Damaskus bernama Ali bin Muwaffaq. Ia tidak datang ke sini (Makkah), tetapi ibadah hajinya telah diterima dan seluruh dosanya telah diampuni Allah.”
Abdullah bin Mubarak berkisah, “Aku bangun dari tidur dan berkata, aku harus pergi ke Damaskus untuk menemui Ali bin Muwaffaq.”
Maka berangkatlah Abdullah bin Mubarak menuju Damaskus dan mencari tempat tinggal Ali bin Muwaffaq. Setibanya di sana, sang ulama zuhud yang terkenal ini menyeru nama Ali bin Muwaffaq hingga seseorang menyahut.
“Siapa namamu?” tanya Abdullah bin Mubarak.
“Ali bin Muwaffaq,” jawab Ali bin Muwaffaq.
“Aku ingin berbicara denganmu,” kata Abdullah.
“Silakan,” kata.
“Apa pekerjaanmu?” tanya Abdullah lagi.
“Aku pembuat sepatu,” jawab Ali.
Kemudian Abdullah bin Mubarak menceritakan kepadanya perihal mimpi yang dialaminya. Mendengar hal itu, Ali bin Muwaffaq bertanya, “Siapakah namamu?”
“Abdullah bin Mubarak,” jawab Abdulah menjawab pertanyaan Ali.
Mendengar nama itu, Ali menjerit dan jatuh pingsan. Setelah siuman, Abdullah mendesak Ali, “Ceritakanlah kepadaku perihal dirimu.”
Ali bin Muwaffaq pun berkisah, “Sudah 30 tahun aku bercita-cita menunaikan ibadah haji. Dari pekerjaanku membuat sepatu, aku berhasil menabung 350 Dirham dan berniat berangkat pada tahun itu juga. Namun ketika itu istriku sedang mengidam dan mencium bau makanan dari rumah tetangga. Ia memintaku untuk meminta sedikit makanan tersebut.”
"Aku pun mengetuk pintu tetangga dan menjelaskan keadaanku. Tiba-tiba ia menangis dan berkata, 'Sudah tiga hari anak-anakku tidak makan. Siang tadi aku melihat seekor keledai mati tergeletak, lalu aku mengambil sedikit dagingnya dan memasaknya. Makanan ini tidak halal bagimu'.”
"Aku sangat sedih mendengarnya. Maka kuambil seluruh tabunganku 350 Dirham dan kuserahkan kepada tetanggaku. Aku berkata, gunakanlah uang ini untuk anak-anakmu. Itulah ibadah hajiku," kata Ali menutup kisahnya.
Mendengar kisah itu, Abdullah bin Mubarak berkata, “Para malaikat telah berkata benar dalam mimpiku. Penguasa kerajaan langit benar-benar Maha Adil dalam pertimbangan-Nya.”
Pada akhirnya, kisah ini mengajarkan bahwa nilai sebuah ibadah tidak semata diukur dari jauhnya perjalanan atau besarnya ritual yang dilakukan, melainkan dari ketulusan hati dan kepedulian kepada sesama. Kisah Ali bin Muwaffaq mengajarkan bahwa amal yang paling sunyi dan ikhlas justru bisa memiliki kedudukan paling tinggi berdasarkan kehendak Allah SWT, Yang Maha Adil.




