REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Dari nada do, re, mi, fa, sol, la, si ( Dal, Ra, Mim, Fa, Sad, Lam, Sin) hingga dentuman genderang perang, jejak musik modern ternyata menyimpan kisah panjang yang jarang diungkap. Jauh sebelum Eropa mengenal notasi, konservatori, dan orkestra militer, para ilmuwan dan seniman Muslim telah merumuskan teori, instrumen, bahkan terapi musik yang pengaruhnya masih terdengar hingga hari ini.
Musik melintasi Benua, budaya, manusia, dan alam. Seperti bahasa, musik memungkinkan kita untuk berkomunikasi, dan musik telah mengalir dalam darah para komponis besar maupun mereka yang tidak peka nada, karena lagu-lagu favorit mereka terus berputar di kepala.
Dikutip dari buku 1001 Inventions Muslim Heritage in Our World, diterangkan bahwa Islam tidak melarang semua jenis musik, melainkan hanya musik yang mengarah pada perilaku yang tidak pantas. Dunia Arab juga telah melahirkan musisi-musisi besar, seperti Oum Kalthoum, penyanyi legendaris yang telah wafat dan dikenal sebagai “Burung Bulbul Sungai Nil” yang mendominasi satu generasi dengan puisi dalam lagu-lagunya dan suara merdunya; serta Muhammad Abdul Wahab, yang menghidupkan kembali puisi klasik dari masa keemasan Arab dan membangkitkan kebanggaan para pendengarnya terhadap warisan budaya mereka yang kaya.
Apakah para seniman dan penyanyi abad ke-20 mengetahui bahwa sebagian besar keahlian mereka berasal dari tangan kaum Muslim abad ke-9? Para ilmuwan ini, khususnya al-Kindi, menggunakan notasi musik, yaitu sistem penulisan musik. Mereka juga menamai nada-nada dalam tangga nada musik dengan suku kata, bukan huruf, yang disebut solmisasi. Suku kata ini membentuk tangga nada dasar dalam musik hingga hari ini dan kita semua akrab dengan do, re, mi, fa, sol, la, si. Alfabet Arab untuk nada-nada ini adalah Dal–Ra–Mim–Fa–Sad–Lam–Sin. Kemiripan fonetik antara tangga nada modern dan alfabet Arab yang digunakan pada abad ke-9 sangat mencolok.
Kaum Muslim juga mengembangkan alat-alat musik. 1100 tahun yang lalu, al-Kindi mengusulkan sistem fret yang rinci untuk alat musik ‘ud (lute), sambil membahas keterkaitan kosmologis musik. Dengan menggunakan anotasi alfabet untuk satu per delapan nada, ia membangun dan menyempurnakan pencapaian para musisi Yunani.




