Rabu, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 Januari 2020

Rabu, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 Januari 2020

Islamofobia, Partai Konservatif, dan Respons Publik Inggris

Selasa 05 Mar 2019 18:10 WIB

Rep: Umi Soliha / Red: Nashih Nashrullah

Kampanye tolak Islamofobia

Kampanye tolak Islamofobia

Foto: onislam.net
Islamofobia dikaitkan dengan kebijakan-kebijakan politik yang memojokkan Muslim.

REPUBLIKA.CO.ID, REPUBLIKA, LONDON – Kemunculan Islamofobia di Inggris kerap diidentikkan dengan sepak terjang Partai Konservatif dan Persatuan.  

Baca Juga

Laporan terbaru dari Hope Not Hate organisasi antirasisme memberikan beberapa indikasi dari mana sentimen ini berasal. 

Hampir setengah (49 persen) dari pemilih konservatif melihat Islam sebagai ancaman terhadap cara hidup orang Inggris. Dengan jumlah yang hampir sama sebanyak (47 persen) pemilih, berpandangan ada ruang-ruang yang dikuasai hukum syariah dan non-Muslim tidak bisa memasukinya.

Islamofobia dan sikap negatif terhadap Muslim meningkat secara signifikan di Inggris. Sebesar 18 persen orang percaya imigrasi Muslim ke negara ini adalah bagian dari rencana yang lebih besar untuk menjadikan Muslim mayoritas penduduk negara ini dan 31 persen  kalangan muda percaya Muslim akan mengambil alih Inggris.

Data terbaru menunjukkan kecenderungan kelompok anti-Muslim lebih memilih Partai konservatif dibandingkan partai lain. Sentimen - sentimen ini muncul seiring partai konservatif menegakkan hak yang keras.

Kendati demikian, anggota parlemen Partai Konservatif yang berkuasa di Inggris, Henry Smith menyangkal adanya tindakan Islamofobia di partainya tersebut. Kepada BBC, beberapa waktu lalu, dia mengatakan, belum pernah melihat adanya perlakuan diskriminatif kepada Muslim.

"Kami memiliki sikap yang adil untuk mengatasi isu Islamofobia yang selama ini hadir ditengah-tengah partai,” kata Henry, seperti dikutip dari Theguardian.

Kebanyakan orang mungkin berasumsi orang yang penuh kebencian tidak akan mendapatkan tempat dalam keanggotaan Partai Konservatif modern. Namun fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya.

Anggota parlemen Konservatif Bob Blackman me-retweet sebuah pos anti-Muslim dari Tommy Robinson dan mengadakan acara di parlemen bersama ekstremis anti-Muslim di parlemen, Tapan Ghosh. Namun, partai konservatif tidak menegur tindakan anggotanya tersebut.

Anggota parlemen konservatif lainnya, Nadine Dorries membagikan tweet dari Tommy Robinson dan menggunakan kiasan sayap kanan melawan Sadiq Khan, Yasmine Alibhai-Brown, dan Muslim secara umum.  

Dorries, secara pribadi menentang pernikahan sesama jenis namun secara tidak langsung mempersenjatai hak-hak gay untuk menyerang kaum Muslim. Bahkan dia tidak pernah meminta maaf atas tindakannya itu.

Selain tiu, anggota parlemen Konservatif seperti, Andrew Rosindell, Jacob Rees-Mogg, Michael Gove, dan Boris Johnson pun terlihat mendukung tindakan dari Tommy robinson. 

Pernyataan Burqa Johnson membuat publik berasumsi dia menggunakan Islamofobia sebagai bagian dari seruan populis, seperti Trump kepada anti-Muslim dalam partai.

Islamofobia tidak bisa hanya dimaknai sebagai sikap dari masyarakat namun harus dimaknai secara luas seperti akan mempengaruhi kebijakan- kebijakan kepada umat Muslim.  

Kebijakan-kebijakan Partai Konservatif yang dibangun diatas sikap rasis terbukti menghambat kemajuan yang berhubungan permasalahan umat Muslim. Misal, kucuran dana yang diberikan kepada Masjid hanya sedikit meskipun terjadi peningkatan Islamofobia.

 

 

 

   

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA