Rabu 20 Feb 2019 07:08 WIB

Prof Mahmud Yunus, Pelopor Pendidikan Modern Islam (4)

Mahmud Yunus mulai menginisiasi Normal School, yang kelak menginspirasi Gontor

Prof Mahmud Yunus kala jadi dekan ADIA
Foto: tangkapan layar wikipedia.org
Prof Mahmud Yunus kala jadi dekan ADIA

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada Maret 1923, Mahmud Yunus berkesempatan untuk pergi ke Tanah Suci. Dia bertolak dari Penang, Semenanjung Malaya (kini Malaysia).

Setelah menunaikan ibadah haji, dia tiba di Kairo, Mesir, untuk mengikuti ujian persamaan yang diselenggarakan Universitas Al-Azhar. Dengan tekun dipelajarinya bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama, khususnya tafsir Alquran, ushul fiqih, dan fiqh mazhab Hanafi. Dua tahun berikutnya, perantau asal Tanah Datar ini lulus dengan predikat syahadah ‘alimiyyah.

Mahmud kemudian melanjutkan ke Darul ‘Ulum, Universitas Kairo, Mesir. Beruntung, dia menjadi satu-satunya mahasiswa Nusantara yang lolos beasiswa pemerintah setempat untuk menempuh studi di sana.

Pada 1930 (sumber lain menyebut: 1931), dia berhasil mendapatkan gelar Diploma dalam bidang pendidikan sehingga dapat kembali ke Tanah Air. Kepulangannya disambut gembira rekan-rekan pergerakan Islam di Minangkabau.

Untuk menerapkan ilmunya selama belajar di Mesir, Mahmud Yunus mulai merintis sebuah lembaga pendidikan, al-Jami’ah Islamiyah di kampung halamannya dan Normal Islam School (Kulliyatul Muallimin al-Islamiyah) di Padang pada 1 April 1931. Namun, sekolah yang pertama disebut itu tutup dua tahun kemudian. Sebab, kekurangan guru, suatu kejadian yang tidak dialaminya di Padang.

Biltiser Bachtiar Manti dkk. dalam artikelnya pada Jurnal Ta’dibuna (2016), menyebutkan beberapa kebaruan yang dihadirkan Mahmud Yunus melalui sekolah yang didirikannya itu.

Pertama, dia memperkenalkan perjenjangan berdasarkan usia anak didik. Sekolah-sekolah yang dirintis Pribumi setempat pada waktu itu masih memasukkan anak-anak dari beragam usia ke dalam kelas yang sama.

Kedua, rentang waktu pendidikan hingga 12 tahun, dengan tingkat-tingkat ibtidaiyah selama empat tahun, tsanawiyah empat tahun, dan aliyah empat tahun. Kedua sistem ini diambilnya dari Universitas Al-Azhar dan Darul ‘Ulum di Kairo.

Ketiga, Mahmud ikut dalam upaya mengatasi efek diskriminasi pendidikan dasar yang disediakan pemerintah kolonial. Pada zaman itu, anak-anak Pribumi direndahkan daripada anak-anak Eropa dan yang disetarakan. Mereka dapat bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS).

Dengan adanya Normal Islam School, anak-anak Pribumi yang tidak masuk HIS dapat menikmati pendidikan umum sekaligus agama. Untuk diketahui, lembaga tersebut merupakan sekolah Pribumi pertama di Minangkabau yang memiliki laboratorium fisika dan kimia. Hal ini menandakan besarnya upaya pendirinya untuk menghadirkan pendidikan islami yang berkualitas.

sumber : Islam Digest Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement