Jumat 15 Feb 2019 14:19 WIB

Aleppo, Kota Kebudayaan Islam

Aleppo mampu merepresentasikan sebuah kota Islam

Pemandangan kota tua Aleppo pada 24 November 2008 (atas) dan kondisi terakhir 13 Desember 2016.
Foto: Reuters
Pemandangan kota tua Aleppo pada 24 November 2008 (atas) dan kondisi terakhir 13 Desember 2016.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Aleppo adalah sebuah kota yang terletak di sebelah utara. Menurut Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas al-hadith al-Nabawi, kota yang sempat menjadi basis Jun Qinnasrin (tentara Qinnasrin) itu pernah menjadi salah satu kota paling penting dalam sejarah Islam.

Jun Qinnasrin merupakan satu dari empat subprovinsi yang sempat dikuasai Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah sesaat setelah pasukan tentara Muslim menguasai wilayah itu pada abad ke-7 M. Allepo pun pernah menjadi ibu kota pemerintahan Islam di wilayah Suriah setelah Kota Qinnasrin mulai kehilangan pamor.

Baca Juga

photo
Allepo

Dari Allepo ke Qinnasrin berjarak sekitar 15 mil. Di sana terdapat Benteng Mani’ah,” ujar Dr Syauqi. Sejak 15 abad lalu, Kota Aleppo telah menjelma menjadi kota terkemuka dalam bidang ekonomi, sejarah, artistik, dan kebudayaan Islam.

Pada 2006, Islamic Educational Scientific and Cultural Organization (ISESCO)—organisasi kebudayaan Organisasi Konferensi Islam (OKI)—mendaulat Aleppo sebagai ibu kota kebudayaan Islam. Aleppo dinilai mampu mewakili tipe kota Islam yang ideal dalam konteks toleransi hubungan beragama.

 

Secara arsitektur, Aleppo juga mampu merepresentasikan sebuah kota Islam. Betapa tidak, bangunan berarsitektur Islam sejak abad ke-7 M itu masih kokoh berdiri. Tak cuma itu, warisan arsitektur dari beragam dinasti seperti Umayyah, Abbasiyah, Hamdaniyah, Seljuk, Zankiyah, Ayubiyah, Mamluk, hingga Usmani masih menghias Kota Aleppo.

photo
Sabun Allepo

Warisan arsitektur itu berupa istana, pintu, pasar, rumah peristirahatan, masjid, rumah sakit, pemandian umum, dan rumah-rumah bersejarah. Selain itu, Aleppo pun telah melahirkan sejumlah tokoh penting dalam khazanah keilmuwan dan peradaban Islam. Allepo pun telah menjadi semacam museum hidup bagi beragam peradaban.

Aleppo merupakan salah satu kota tertua dalam sejarah manusia. Kota itu sudah didiami manusia sejak abad ke-11 SM. Fakta sejarah itu terkuak dengan ditemukannya permukiman di Bukit al-Qaramel. Kota ini pun telah dikuasai oleh beragam bangsa dan peradaban sejak abad ke-4 SM, seperti Sumeria, Akadian, Amorites, Babylonia, Hithies, Mitanian, Assyria, Arametes, Chaldeans, Yunani, Romawi, dan Bizantium.

photo
Masjid Umayyyah Aleppo

Itulah mengapa Kota Aleppo begitu banyak disebut-sebut dalam catatan sejarah dan lembaran kuno. Kali pertama, nama Aleppo disebut dalam lembaran kuno dari abad ke-3 SM. Jejak Aleppo juga terkuak selama masa kekuasaan Raja Akkadian, anak Sargon (2530 SM – 2515 SM). Aleppo kuno sempat mencapai masa kejayaannya pada masa kekuasaan Raja Hammurabi, Babilonia. Ketika dikuasai Romawi pada abad ke-5 M, agama Kristen pun menyebar di bumi Aleppo.

Peradaban kota tua itu memasuki babak baru ketika Islam menancapkan benderanya pada 637 M. Di bawah komando Khalid bin al-Walid, pasukan tentara Islam berhasil memasuki Kota Aleppo melalui gerbang Antakya.

Tak sulit dan tak butuh waktu lama bagi umat Islam untuk menyebarkan bahasa Arab di Aleppo. Pasalnya, penduduk di kota itu berbahasa Assyria yang tak jauh beda dengan bahasa Arab. Semenjak jatuh ke pelukan umat Islam, Aleppo pun melalui dan mengalami masa pasang surut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement