Jumat 01 Feb 2019 04:51 WIB

Kecantikan dalam Islam

seorang Muslimah diharapkan mampu menghadirkan kecantikan batin dalam kehidupannya.

Ilustrasi Muslimah
Foto: EPA/Mast Irham
Ilustrasi Muslimah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mereka yang dikaruniai kecantikan lahiriah, hendaknya mempercantiknya dengan akhlak mulia.  Wanita mana yang tidak ingin tampil cantik? Di era modern ini, bagi sebagian wanita, penampilan cantik dan menarik bahkan sudah menjadi kebutuhan dan keharusan. Berbagai cara dan upaya pun ditempuh untuk memiliki kecantikan yang ideal.

Mereka pergi ke salon kecantikan, memakai aneka kosmetika, mengenakan pakaian merek ternama, bahkan menjalani operasi plastik untuk memperindah bagian tubuh tertentu.

Perasaan ingin tampil cantik adalah hal yang wajar. Itu merupakan kecenderungan bagi setiap kaum Hawa, dan menjadi fitrah sekaligus nikmat dari Allah SWT.

Namun kecantikan juga adalah ujian. Bagi yang menggunakannya sesuai tuntutan agama, dia akan menjadi orang yang beruntung. Dan bagi yang menggunakannya di jalan kemaksiatan, sangatlah merugi dan berdosa.

Kecantikan haruslah meliputi kehidupan beserta seluruh isinya, juga segala sesuatu di sekitar manusia. Segala yang bisa ditangkap oleh panca indera perlu diupayakan terlihat cantik dan indah.

Maka dalam konteks ini, kecantikan tidak bisa dinilai dan dimaknai hanya dari aspek lahiriah semata. Ada unsur yang lebih utama, bahkan dapat menyematkan seorang Muslimah pada predikat 'ratu kecantikan sejati'.

Dijelaskan oleh al Raghib, terdapat istilah dalam bahasa Arab untuk menyebut segala sesuatu yang indah dan disukai, yakni al-husn. Selama ini, al-husn dikenal hanya sekadar yang dianggap bagus oleh panca indera.

''Sementara al-husn yang dimaksudkan dalam Alquran adalah sesuatu yang dianggap bagus oleh hati nurani (al-bashirah),'' kata al Raghib.

Dengan begitu, seorang Muslimah diharapkan mampu menghadirkan kecantikan batin dalam kehidupannya. Sabda Rasulullah SAW, ''Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk fisik dan harta kalian, tetapi pada hati dan perbuatan kalian.'' (HR Muslim)

Jadi, tidak perlu berkecil hati jika pun fisik kurang cantik, karena kecantikan batin akan mempercantik lahiriahnya. Siapapun yang melihatnya pasti bakal menyukai dan mengaguminya, demikian ungkap Ibnu al Qayyim.

Dan bagi ulama ini, kecantikan lahir adalah 'bonus' dari Allah SWT kepada sebagian orang yang dikehendaki-Nya. Oleh karena itu, Nabi SAW mengingatkan mereka yang dikaruniai kecantikan oleh Allah SWT, agar lebih mempercantiknya dengan akhlak yang bagus.

Pada konteks keimanan, kecantikan akhlak menjadi cerminan dari sifat-sifat terpuji, yang pada gilirannya akan membuatnya ikhlas dalam mencintai Allah SWT. Apapun yang dilakukan bernilai ibadah, termasuk di lingkup pembinaan keluarga sakinah.

Setiap orang bisa saja berbeda pendapat tentang kriteria kecantikan, akan tetapi Islam telah menetapkan beberapa hal supaya kecantikan kekal dan sempurna. Rasulullah SAW menegaskan tiga kriteria kecantikan.

''Sebaik-baik manfaat yang diperoleh seorang Muslim adalah perempuan yang cantik, yaitu yang membuatnya senang jika dipandang, menurutinya jika diperintah, serta menjaga harta dan dirinya jika ditinggal pergi.''

Intinya, puncak kecantikan menurut Islam berbanding lurus dengan ketakwaannya pada Allah SWT. Dengan takwa dan iman, dia selalu berusaha membentengi diri dari perbuatan hina, tercela dan maksiat, sebaliknya akan memperbanyak amal ibadah dan perbuatan terpuji.

Demikian cerminan pribadi Muslimah salehah. Maka itu, bila telah terbangun niat untuk mempercantik diri secara lahiriah, hendaknya juga melandasinya dengan meningkatkan kecantikan batiniah, dengan tawakal, iman dan akhlak mulia.

sumber : Dialog Jumat Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement