Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Imam Besar Istiqlal Ungkap Fungsi Masjid di Era Rasulullah

Senin 10 Dec 2018 13:13 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah

Nasaruddin Umar- Imam Besar Masjid Istiqlal

Nasaruddin Umar- Imam Besar Masjid Istiqlal

Foto: Republika/ Wihdan
Masjid menjadi salah satu basis kekuatan umat dalam segala lini.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof KH Nasaruddin Umar menungkapkan, masjid yang dibangun Rasulullah SAW pada masa awal Islam memiliki banyak fungsi sehingga masyarakat Muslim dapat berkembang. 

Dia menjelaskan, pada zaman Rasulullah, masjid berfungsi sebagai kantor pengadilan pidana perdata, balai pertemuan untuk acara pernikahan, akikah, dan kematian. 

Masjid juga jadi tempat pertemuan lintas agama, hal itu dibuktikan Nabi saat 60 orang tokoh lintas agama berkumpul di masjid.

"Bahkan menara masjid tidak hanya digunakan untuk mengumandangkan adzan, digunakan juga untuk melihat rumah-rumah penduduk yang tidak berasap dapurnya," kata Nasaruddin kepada Republika.co.id, Senin (10/12).

Dia menerangkan, masjid pada zaman Rasulullah juga berfungsi sebagai rumah sakit (RS). Korban perang yang terluka dijahit di masjid. Selain itu, masjid difungsikan sebagai sekolah, kampus, rumah keterampilan untuk tukang besi, tukang kayu, tukang jahit dan kursus bahasa. Masjid juga difungsikan untuk Baitul Mal dan sebagai rumah singgah untuk umat dari luar kota.

Kendati demikian dia mengingatkan, tapi jangan sampai fungsi masjid yang banyak justru malah menggeser fungsi utama masjid.

Di Amerika Serikat (AS) ada gagasan untuk memfungsikan masjid secara maksimal. Tapi ada kecenderungan kesakralan masjid tenggelam oleh fungsi sosial, budaya, pendidikan dan lain-lain. Mungkin hal ini terjadi karena terlalu memfungsikan masjid.

"Akhirnya tidak ada lagi tempat sakral, tempat untuk menangis, tempat untuk bermesraan dengan Allah, tempat meratapi dosa masa lampau, kita ingin ruang utama masjid tidak terganggu dan tidak terusik oleh kegiatan sosial, budaya, dan pendidikan," ujarnya. 

Dia mengungkapkan, khawatir kalau terlalu berlebihan melakukan pemanfaatan masjid untuk acara pernikahan, festival dan segala macamnya. Justru tempat sakral di masjid untuk meratapi dosa masa lalu jadi tidak ada lagi.

Prof KH Nasaruddin juga menyarankan agar masjid bisa memberdayakan umat. Salah satu caranya bisa dengan membangun minimarket berbasis masjid. Kedepan masjid-masjid harus bisa memberdayakan umat, bukan hanya umat yang memberdayakan masjid. 

"Ini kata kunci saya, jangan saja umat memakmurkan masjid tapi masjid yang harus memakmurkan umat," guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Dia menjelaskan, masjid-masjid di Indonesia biasanya ada di tengah pemukiman masyarakat yang padat. Jumlah masjid lebih dari 800 ribu, kalau ditambah surau dan langgar jumlahnya sangat banyak. 

Bayangkan kata dia, kalau di setiap masjid atau 50 persen dari jumlah masjid yang ada dibangun minimarket. Minimarket lain akan tersaingi minimarket-minimarket berbasis masjid.

"Kalau setiap masjid punya minimarket yang dijamin halalnya, keuntungannya masuk ke masjid, pegawainya Muslim, maka keuntungannya (manfatnya) untuk umat," ujarnya.

 

  

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA