Jumat 21 Sep 2018 16:13 WIB

Logika Sang Imam yang Brilian

Rasionalitas Abu Hanifah berpijak pada Alquran dan hadis.

Rep: Amri Amrullah/ Red: Agung Sasongko
Ibadah/ilustrasi
Foto: wordpress.com
Ibadah/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tokoh yang satu ini memang terkenal cerdas. Ia adalah Abu Hanifah Nu'man bin Tsabit. Sosok yang lahir di Kufah 699 M itu kerap melakukan dakwah berupa debat dan dialog dengan para pelaku kesesatan dalam bidang teologi (kalam).

Wajar bila Sang Imam dikenal sebagai peletak dasar teologi melalu kitabnya yang terkenal, yaitu al-Fiqh al-Akbar. Seperti dinukilkan dari karya Dr Abdurrahman Raf'at Basya yang disalin ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Mereka adalah Para Tabiin, ada beberapa kejadian yang pernah dicatat sejarah menggambarkan kecerdikan dan kecerdasan penggagas Mazhab Hanafi ini menghadapi mereka yang sesat. 

Misalnya, seseorang pernah menyebarkan fitnah di hadapan orang-orang bahwa Utsman bin Affan asalnya adalah Yahudi, lalu kembali ke pangkuan Yahudi setelah berislam.

Kabar ini pun sampai di telinga Abu Hanifah. Ia bergegas ingin meminta klarifikasi darinya. “Aku datang kepadamu untuk meminang putrimu yang bernama fulanah untuk seorang sahabatku,” kata Sang Imam.

 

Lelaki tersebut menjawab, “Selamat atas kedatangan Anda. Orang seperti Anda tidak layak ditolak keperluannya wahai Abu Hanifah. Akan tetapi, siapakah peminang itu?”

“Seorang yang terkemuka dan terhitung kaya di tengah kaumnya, dermawan dan ringan tangan, hafal Alquran, menghabiskan malam dengan satu rukuk, dan sering menangis karena takwa serta takutnya kepada Allah SWT,” kata Abu Hanifah tanpa menyebut identitas nama orang yang dimaksud.

Laki-laki itu berkata, “Wah … wah ... cukup wahai Abu Hanifah, sebagian saja dari yang Anda sebutkan itu sudah cukup baginya untuk meminang seorang putri khalifah para mukmin.”

Abu Hanifah berkata, “Hanya saja ada satu hal yang perlu Anda pertimbangkan.” Dia bertanya, “Apakah itu?” Abu Hanifah berkata, “Dia seorang Yahudi.”

Mendengar hal itu, orang itu terperanjat dan bertanya-tanya: “Yahudi? Apakah Anda ingin saya menikahkan putri saya dengan seorang Yahudi wahai Abu Hanifah? Demi Allah, aku tidak akan menikahkan putriku dengannya, walaupun dia memiliki segalanya dari yang awal sampai yang akhir.”

Lalu Abu Hanifah berkata, “Engkau menolak menikahkan putrimu dengan seorang Yahudi dan engkau mengingkarinya dengan keras, tapi kau sebarkan berita kepada orang-orang bahwa Rasulullah SAW telah menikahkan kedua putrinya dengan Yahudi (yakni Utsman)?”

Jawaban yang sangat logis dari Abu Hanifah itu spontan menjadi cambukan keras bagi pria tersebut. Seketika tubuhnya gemetar. Ia menangis dan bertobat. “Astaghfirullah. Aku bertobat dari tuduhan busuk yang saya lontarkan,” katanya.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement