REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Salah satu persoalan yang dihadapi korban gempa NTB adalah susahnya mencari air untuk keperluan mandi, cuci, kakus (MCK). Mereka terpaksa harus berjalan jauh mencari sumber air ke sungai atau mengantre panjang di sumur terdekat. Bahkan, karena susahnya air, pengungsi terpaksa buang kotoran di hutan terdekat.
Merespons kondisi tersebut, Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) membantu korban gempa dengan mendirikan enam bilik fasilitas MCK di posko pengungsian Desa Sigarpenjalin, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Jumat (10/8).
Dalam upaya tersebut bersama beberapa warga, relawan BMH dan SAR Hidayatullah memanfaatkan sisa reruntuhan yang dapat digunakan.
“Kami coba memanfaatkan sisa reruntuhan yang ada. Kami melepaskan beberapa atap seng dari puing-puing bangunan yang telah hancur untuk dijadikan dinding penutup,” terang relawan BMH di lokasi, Rohsyandi, dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Sabtu (11/8).
"WC ini kita harapkan dapat memudahkan para pengungsi untuk aktivitas MCK. Selain itu BMH juga membantu memasok air dari sumur terdekat ke dekat posko agar pengungsi gampang mengambil air dan juga berwudhu," imbuhnya.
Sebelumnya, BMH dan SAR Hidayatullah telah membangun masjid darurat di tempat yang sama dan difungsikan untuk kegiatan shalat. Sampai hari ini pun, tim masih terus melakukan layanan medis, evakuasi dan penyaluran logistik serta kebutuhan pengungsi lainnya. “Sembari terus sigap mencari titik-titik yang belum tersentuh bantuan,” kata Rohsyandi.
Gempa melanda NTB pada Ahad (29/7). Seminggu kemudian, Ahad (5/8), gempa kembali terjadi. Gempa bumi NTB memakan ratusan korban meninggal, ribuan luka-luka, puluhan ribu rumah rusak parah dan ratusan ribu korban mengungsi.