Ahad 06 May 2018 18:26 WIB

Ormas Persis Setuju Penyatuan Kalender Hijriyah

Penyatuan kalender hijriyah sangat mungkin dilakukan dengan menyamakan persepsi.

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Agus Yulianto
 Petugas melakukan rukyatul hilal (Ilustrasi)
Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Petugas melakukan rukyatul hilal (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam, Persatuan Islam (Persis) mendukung langkah Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang menginginkan adanya penyatuan kalender hijriyah Islam. Pasalnya, penyatuan tanggal hari raya Islam itu merupakan tuntutan syar'i.

 

"Tentu dari tinjauan syar'i. Kami dan teman teman di Persatuan Islam sangat menginginkan (penyatuan). Bahkan saya pernah membuat tulisan, landasan syar'i tentang tuntutan dan keharusan mengupayakan penyamaan kalender hijriyah di satu wilayah matla. Minimal satu negara, kalau pun tidak bisa untuk satu dunia seluruh negeri Muslim," ujar Wakil Ketua Umum PP Persis, Jeje Zaenudin, Ahad (6/5).

 

Menurutnya, Persis memiliki lembaga falakiyah yaitu Dewan Hisab dan Rukyat. Lembaga ini memiliki kriteria dalam menetapkan awal dan akhir bulan Qomariah terutama Ramadhan dan Dzulhijjah. Termasuk sering melakukan diskusi dengan Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama.

 

"Salah satunya di Persis adalah berpegang kepada batasan tinggi hilal 4 derajat secara umum dan persyaratan lain. Tetapi, kalau pemerintah mau berpegang pada 2,5 derajat diminta dipersyaratkan dengan adanya bukti citra visual. Untuk menghindari keragu-raguan dan pengingkaran orang yang tidak melihat," katanya.

 

Dia menuturkan, Persis sangat setuju dengan penyatuan kalender hijriyah untuk satu kawasan matla seperti Indonesia. Dia mengungkapkan, penyatuan kalender hijriyah sangat mungkin dilakukan dengan menyamakan persepsi terlebih dahulu.

 

"Sebetulnya sangat memungkinkan, asal mendiskusikan untuk menyamakan kepada persepsi tentang keharusan secara syari kebersamaan di dalam melaksanakan hari raya Islam. Kalau penyatuan total seluruh tanggal hijryah secara global agak sulit. Minimal akan selalu berbeda yang berpegang kepada rukyat dan hisab hakiki," katanya.

 

Dia mengatakan, penyatuan kalender hijriyah bisa dilakukan minimal untuk hari raya. Hal itu harus diupayakan sebab merupakan tuntutan syari. Menurutnya, upaya penyatuan kalender hijriyah terus dilakukan dengan dimotori oleh Kementerian Agama melalui Badan Hisab Rukyat serta selalu mengadakan rapat Isbatul Hilal awal dan akhir Ramadhan dan awal akhir Dzulhijjah.

 

"Dua bulan itu yang krusial karena terkait kesatuan hari raya kaum Muslimin. Dimana salah satu makna filosofis bersatunya kaum Muslimin ditentukan adanya kesatuan hari raya. Itu salah satu syiar kebersatuan," katanya.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement