Rabu 04 Apr 2018 16:05 WIB

Bejaia, Kota Kecil Sumber Peadaban

Kota ini dikenal sangat makmur dan dikenal sebagai pusat perdagangan.

Kota Bejaia, Aljazair
Foto: Mapio
Kota Bejaia, Aljazair

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah kota kecil muncul sebagai sumber peradaban. Kota itu adalah Bejaia. Bejaia merupakan sebuah kota kecil yang ada di wilayah timur pantai Aljazair. Kota ini dikenal sangat makmur dan dikenal sebagai pusat perdagangan. Di sisi lain, Bejaia dikenal pula sebagai pusat pendidikan. Sejumlah cendekiawan bermunculan dari kota ini. Mereka menorehkan prestasi dan mengharumkan nama Bejaia. Bahkan, dari kota ini terjalin interaksi pengetahuan dengan Barat.

Al Idrisi, seorang pelancong dan cendekiawan Muslim, menulis bahwa di Bejaia banyak kapal pembongkar barang. Demikian pula dengan karavan yang sarat barang berjalan melalui jalan darat. Hampir semua jenis barang terdapat di sana. Menurut Al Idrisi, Bejaia yang dikelilingi pegunungan dan lembah, menjadikan kota ini juga dikenal sebagai penghasil kayu berkualitas tinggi. Tak heran, jika kapal-kapal besar untuk keperluan perang dan dagang diproduksi di kota ini.

Pada masa Dinasti Almohad, Bejaia menjalin hubungan dagang yang erat dengan kota-kota di Italia, terutama dengan Pisa. Banyak pedagang Kristen berdatangan ke Bejaia dan tinggal selama beberapa waktu. Lalu, mereka membawa pulang sejumlah komoditas, seperti wol dan minyak. Banyak pedagang yang berasal dari Genoa berdatangan ke Bejaia. Mereka mengekspor sejumlah barang dagangan, seperti kain dan linen. Sedangkan, Bejaia mengekspor tawas, lilin, dan emas. Di sisi lain, Bejaia merupakan kota pendidikan.

Sebuah daftar berangka tahun 1203- 1299, yang disebut dengan galeri sosok li teratur Bejaia abad ke-7, mengungkapkan sejumlah cendekiawan yang ada di kota tersebut. Mereka adalah cendekiawan di bidang kedokteran, hukum, matematika, dan sastra. Sejarawan bernama Al-Ghubrini, yang juga berasal dari Bejaia, menuliskan tentang biografi 140 orang yang memiliki keahlian di sejumlah bidang yang hidup di kota tersebut. Di antaranya adalah pakar hukum Islam.

Al-Ghubrini menyebutkan, pakar hukum Islam yang ada di Bejaia, yaitu Omara Ibn Yahia al Hussaini dan Abdallah bin Omar al-Kaisi. Ada pula sejarawan Muhammad bin al Hassan bin Maimun serta dokter Ahmad bin Khalid, Taki al Din, dan Ib Tumart. Cendekiawan George Sarton, yang mengacu pada catatan sejarawan Ibn Hammad, menyatakan pula adanya tradisi akademik yang tumbuh dan berkembang di Bejaia. Juga, terkait dengan retaknya persatuan umat Islam yang saat itu merupakan masa kekuasaan Dinasti Fatimiyah pada 909-1171 Masehi.

sumber : Islam Digest Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement