Senin 05 Mar 2018 17:04 WIB

Umat Beragama Diminta Jaga Kerukunan

Dilaporkan kerukunan umat beragama pada tahun 2017 masih dalam kondisi baik.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Agung Sasongko
Kerukunan Beragama (Ilustrasi)
Foto: Republika/Mardiah
Kerukunan Beragama (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pusat Penelitian dan Pengembangan Bimas Agama dan Layanan Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat dari Kementerian Agama (Kemenag) mengadakan Launching Laporan Tahunan Kehidupan Keagamaan Tahun 2017 di Hotel Sari Pan Pacific pada Senin (5/3). Dilaporkan kerukunan umat beragama pada tahun 2017 masih dalam kondisi baik. Meski demikian semua umat beragama diminta untuk tetap memperkuat kerukunan di Indonesia.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Bimas Agama dan Layanan Keagamaan dari Kemenag, Dr Muharam Marzuki mengatakan, tahun 2017 menampilkan potret memperkuat kerukunan. Sebab pada tahun 2018 diperkirakan akan menjadi tahun politik yang cukup kuat. Maka bagaimana mengantisipasi permasalahan yang mungkin muncul, agar umat beragama tetap memperteguh kerukunannya meski di tahun politik.

"Karena bagaimana pun banyak isu-isu keagamaan yang bisa mempengaruhi terhadap situasi politik," kata Dr Marzuki kepada Republika di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Senin (5/3).

Ia menyampaikan, berharap seluruh umat beragama dari lapisan bawah sampai lapisan atas tetap saling mendukung untuk memperkuat kerukunan di Indonesia. Umat beragama dari lapisan bawah sampai lapisan atas jangan mudah termakan isu-isu negatif dari berita di media sosial. Juga jangan mudah termakan ucapan yang bisa mengganggu kerukunan umat beragama.

Ia menerangkan, sekarang sedang marak orang memberitakan sesuatu melalui media sosial. Tapi kejadian yang diberitakan di media sosial tersebut sebenarnya tidak pernah terjadi. Saat ini marak juga berita yang dibesar-besarkan melalui media sosial.

"Makannya tema kita untuk tahun 2017 bagaimana memperteguh kerukunan umat beragama," ujarnya.

Dr Marzuki juga menjelaskan, ada faktor internal yang mempengaruhi kerukunan umat beragama. Seperti banyaknya isu-isu terkait dengan faham keagamaan yang muncul di masing-masing kelompok agama. Ada juga faham keagamaan yang sudah ada tetapi dimunculkan kembali, seperti persoalan Syiah dan Ahmadiyah di agama Islam.

Ia berharap, persoalan tersebut jangan terlalu dibesarkan. Bagaimana pun faham keagamaan itu merupakan realitas kehidupan bahwa ada masyarakat Indonesia yang berbeda faham. Di agama Islam apalagi di agama Kristen banyak sekali faham aliran keagamaannya.

"Itu kita berharap faham keagamaan-keagamaan yang muncul di masing-masing agama itu tidaklah menjadi batu sandungan, kita tidak bisa menafikan bahwa aliran itu pasti ada," jelasnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Litbang dan Diklat dari Kemenag, Prof Abdurrahman Mas'ud menyampaikan, secara garis besar kesimpulannya kerukunan umat beragama di Indonesia baik, karena indeks persentasenya masih di atas 70 persen. Tingkat kerukunan diukur melalui tiga indikator yaitu tingkat toleransi, kesetaraan dan kerja sama antarumat beragama.

"Kerukunan baik, kerukunan kategorinya baik, meskipun nanti harus nunggu launcing tapi hasilnya ini tahun 2017 kerukunan umat beragama masih tinggi, yaitu 72,27 persen," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement